Menemukan SOUL

Soul atau Jiwa dalam konteks spiritual merupakan bagian yang tidak terlihat, tapi dianggap sebagai sumber kesadaran, makna, dan koneksi dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Sering disebut roh atau Dalam Hindu, dikenal sebagai atman, yang diyakini sebagai bagian dari realitas universal (Brahman).

Saya tidak sedang menjelaskan tentang soul dalam konteks spiritual melainkan suatu singkatan yaitu SOUL = Spirit Of Universal Life

Ya menemukan Soul/Jiwa dan SOUL merupakan perjalanan yang tidak sebentar. Pencarian terakhir jalan spiritual saya karena disini saya merasa "penuh".

Suatu hari, kalau tidak salah sekitaran tahun 2019, suami membawa audio Bunda Arsaningsih dari buku Soul Reflection. Saya dengarkan terasa cukup bagus. Cukup yaa... bukan bagus. Karena saat itu diri dipenuhi ego, jadi ada perasaan sudah tahu sehingga pelajaran yang datang tidak semua bagus untuk saya yang penuh kesombongan dengan merasa sudah tahu.

Didengarkan lagi, makin lumayan. Karena gabut, saya dengarkan lagi, makin bagus dan ada perasaan terisi di dalam hati, terharu, dan perasaan lain. Penasaran siapa sih Arsaningsih ini?

Saya cari di google dan baca sekilas, ketemu youtubenya. Kebiasaan saya yang agak teratur adalah memulai pekerjaan dan proses dari 0, dan saya mencari youtube yang dipost pertama kali yaitu zaman BaliTV.

Saya tonton sekali rasanya apa yang dibicarakan Bunda tidak mungkin saya lakukan. Yang Bunda katakan hanya bisa dilakukan oleh orang suci, dan itu bukan saya. Tapi kadang-kadang kalau sedang galau, entah kenapa saya dengarkan lagi dan bisa bikin lebih tenang.

Suatu saat, bisnis MLM yang saya kerjakan ada pergolakan halal dan haram. Sebagai orang Hindu yang pemahaman agamanya sangat dangkal, saya belum menemukan halal dan haram. Adanya karma phala, apa yang kita perbuat itu yang kita tuai.

Ada rasa ragu menjalankan bisnis ini karena melibatkan banyak orang. Saya merasa bertanggung jawab jika benar bisnis ini tidak sesuai kehendak Tuhan, maka saya juga mengajak orang lain berbuat kurang baik.

Benarkah yang saya lakukan selama ini? Sudah baikkah saya sebagai anak, ibu, istri, dll?
Pikiran saya jadi kemana-mana. Bersamaan dengan pandemi tahun 2020 saya lebih sering menonton youtube spiritual. Youtube A bagus tapi beberapa lama kok ga cocok. Youtube B, C, D, dst juga demikian.
Yang paling masuuuuk adalah youtube Bunda.

Saya dengarkan setiap hari, saya pilih acak yang muncul di beranda paling depan saat buka youtube dan itu selalu sesuai dengan permasalahan saya.

Saya memutuskan membeli buku SOUL Reflection tahun 2022 di market place selain tetap mendengarkan youtube Bunda.

Selanjutnya saya menemukan link untuk mengikuti training online Mengenal Jati Diri tahap 1.

Saya daftar, toh trainingnya online, tidak mengganggu aktivitas saya di rumah yang memang jarang keluar rumah sejak resign.

Cerita selanjutnya : Mengenal Jati Diri 1

 


Satuan Waktu

Kita telah mengenal satuan waktu kan? Ada detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, triwulan, caturwulan, semester, tahun, lustrum, windu, dasawarsa, abad, dan milenium.

Berikut ini adalah konversi beberapa satuan waktu.
1 menit = 60 detik
1 jam = 60 menit
1 jam = 3.600 detik
1 hari = 24 jam


1 minggu = 7 hari
1 bulan = 4 minggu
1 bulan = 30 hari
 

1 tahun = 12 bulan
1 tahun = 2 semester
1 triwulan = 3 bulan
1 caturwulan = 4 bulan
1 tahun = 3 caturwulan
1 tahun = 4 triwulan
1 tahun = 52 minggu
 

1 lustrum = 5 tahun
1 windu = 8 tahun
1 abad = 100 tahun
1 milenium = 1.000 tahun

Activelle Fairness Anti-perspirant Deodorant Oriflame

 

Ketiak tampak cerah? Bikin pede pastinya! 

Deodorant Activelle dari Oriflame telah dilengkapi dengan ActiBoost Technology yang membantu kamu tampil segar saat dibutuhkan. Sebuah teknologi wewangian yang diaktifkan mengikuti gerakan, sehingga kamu merasa segar dan penuh percaya diri.

Activelle Fairness Anti-perspirant Deodorant dengan manfaat...
🌟 Membantu membuat rona kulit tampak rata dalam 14 hari*
🌟 Ketiak tampak lebih cerah setelah empat minggu*
🌟 Aroma buah-buahan yang berpadu dengan hangatnya wangi bunga

Anak Pertamaku

 Anak pertama...

Tempat pertama tercurah segala kasih sayang dan harapan.
Tempat Ibu belajar banyak hal, sangat banyak malah, sehingga kadang merasa seperti percobaan dari Ibu yang tak punya pengalaman sama sekali.
Ditinggal kerja pagi sampai sore karena Ibu belum ikhlas melepas kerja kantor, yang "sepertinya" bukan karena faktor keuangan tapi lebih kepada ambisi aktualisasi diri dalam pekerjaan yang sesuai ijazah. Karena sejatinya rezeki selalu ada dimanapun kita ikhlas bekerja dan kecukupan materi adalah relatif.
Maafkan...karena sempat membuat neraca antara penghasilan saat kerja di rumah, saat tidak kerja dan saat kerja kantoran. Yang sudah jelas2 tidak bisa dihitung value to value karena di rumah bersamamu sudah pasti dan seharusnya jauh lebih berat.
Mandiri lebih awal ketika si adik hadir yang ternyata banyak menginspirasi adiknya untuk bisa mandiri dan tentu saja menginspirasi Ibu
Diminta mengalah pada adik hanya agar Ibu bisa bekerja dengan tenang.
Diminta membantu jaga adik supaya Ibu bisa selesaikan pekerjaan rumah dan lanjut kerjain bisnisnya.
Kadang tanpa sadar menyalahkan jika terjadi sesuatu dg adik, padahal yang salah adalah Ibu karena Ibu yang seharusnya bertanggung jawab pada adik, bukan kakak.
Konon katanya... anak pertama bisa jadi benci adiknya jika diminta mengalah. Tapi Kakak luar biasa, tetap sayang adik dari adik lahir hingga sekarang.
Terimakasih terimakasih terimakasih 🙏😘
Dan sejuta maaf untuk ketidaksempurnaan Ibu menemanimu hingga sekarang 🙏
Semoga perjalananmu menuju SUKSES terbentang luas, dimudahkan dan dilancarkan menggapai cita untuk kebaikan diri sendiri, keluarga dan orang banyak, Tathastu 🙏

Akibat Gigitan Semut Api

Pernah dengar semut api?
Atau mungkin pernah melihatnya?

Ini nih penampakan semut api yang ada di garasi rumah saya. Kadang banyak kadang hanya tiga-empat semut aja. Seperti semut lain, jika tidak mengganggu seperti ngerubutin makanan, biasanya saya biarkan saja.

Garasi adalah tempat favorit saya untuk bongkar belanjaan dari pasar karena tempatnya luas. Paling enak duduk dilantai dan membersihkan sayuran serta menata ke dalam wadah-wadah.

Aww...si semut menggigit karena tertindih kaki saya. Periiih...tapi abaikan saja. Saya orang desa dan orang desa mah kebal haha. Cuman digigit semut doang...
Beberapa saat kemudian bagian yang digigit semut gatal luar biasa dan bengkak, kulitpun menebal dan agak lebar di sekeliling gigitan. Ah abaikan saja, yang penting jangan digaruk keras supaya ga luka, besok juga hilang sendiri. Tapii... ternyata bengkak ini berlangsung seminggu lebih. Kadang mengempes kemudian menghitam atau kadang luka karena ga sengaja digaruk pas tidak sadar.

Seingat saya, gigitan ini terjadi 4-6 kali di titik berbeda. Terakhir ketika sedang membersihkan rice cooker dan duduk di lantai semut menggigit sekitar paha.
Seperti biasa, saya abaikan. Cuman meringis aja karena gigitannya bikin perih.
Saya melakukan aktivitas seperti biasa kemudian mulai menghadapi si laptop dan kerjaaa....
Mulai terasa gatal di bagian pergelangan tangan yang memakai jam tangan. Saya lepas jam tangan. Trus gatal lagi di telinga, leher dan pipi. Saya garuk pelan sambil tetap membalas chat di wa. Saya pikir cuman gatal biasa.

Tidak lama kemudian, hidung berdenyut-denyut keras, demikian juga kepala. Bukan sakit tapi kayak berdenyut/bergerak seirama dengan detak jantung. Detak jantung juga terasa keras banget. Saya belum pernah mengalami ini. Wajah pun terasa memanas.

Sadar ada yang tidak beres saya bercermin...terlihatlah hidung membengkak, wajah merah dan bengkak, leher merah, tangan, kaki dan punggung gatal.
Hem alergi ini. Saya tau karena saya beberapa kali alergi. Tapi sudah lama sekali saya tidak pernah alergi. Terakhir mungkin waktu kerja di Kalbe Farma belasan tahun lalu. 

Minum obat aja yuk! Saya ingat pernah belikan kakak obat alergi lalu saya cek stok obat tersebut dan untungnya masih ada dan belum expired. Saya minum dan mulai beresin kerjaan dan memposisikan diri untuk tiduran karena biasanya setelah minum obat alergi saya pasti ngantuk berat. 

Namun diluar dugaan, tiba-tiba perut terasa sakiit seperti maag kambuh. Padahal sudah lama juga saya tidak merasakan maag kambuh. Saya coba berjalan menuju kotak obat siapa tau masih ada sisa obat maag. Baru 3 langkah, dunia terasa gelap...ah anemia mungkin karena mendekati datang bulan. Diam sebentar biasanya baikan.

Okee sudah baikan, lanjut melangkah... dan perasaan semakin tidak enak, pandangan kabur. Akhirnya saya sadar ada yang tidak beres, segera saya minta anak-anak panggil Bapaknya.
Saya dipapah ke kasur. Keringat dingin segede-gede jagung mulai berjatuhan. Pusiiing luar biasa.
Saya bertahan... mungkin tensi drop. Sebentar juga baikan jika dibawa tiduran.

Syukurlah benar enakan, tapiiii sakit perut tiba2 ingin BAB. Ga bisa ditunda alias ditahan, saya minta dituntun ke toilet karena masih pusing/melayang. Belum sampai toilet saya ambruk, sepertinya pingsan tapi posisi aman (tidak ada benturan ke lantai) karena masih dituntun dan pegangan si Bapak.
Bapak dan anak2 bingung karena sejauh ini saya tidak pernah pingsan, sakitpun paling ringan2 aja. Sepertinya tidak lama karena sebelum diangkat ke kasur saya sudah siuman.

Belum sempat mikir mengapa saya bisa pingsan, perut saya berontak, saya minta diantar ke toilet dalam keadaan dunia gelap dan pegangan tangan bapak. Sampai di toilet keluarlah diare.
Insting saya ingin menganalisa warna dan penampakan diare saya untuk tahu saya keracunan atau gimana...tapi jangankan menoleh, untuk buka mata dan bangkit dari dudukan toilet aja tidak bisa. Hampir 30 menit saya duduk pegangan tangan bapak sambil tetap mengucurkan keringat dingin yang deras. Saya belum pernah merasakan seperti ini.
Sampai akhirnya saya bisa buka mata dan minta Bapak panggil dokter saja.

Ini hari minggu gaes....dokter terdekat tutup. Tetangga yang mau dimintain tolong untuk tanya dokter atau nganter ke RS juga sepi.
Bapak memutuskan bawa saya ke RS. Anak-anak di rumah berdua. Saya sebenernya ga mau karena musim pandemi, tapi saya juga ga berani jamin saya bisa cepat sehat dan ga bikin Bapak + anak2 panik.

Lemes rasanya, ga ada tenaga sama sekali setelah dari toilet. Dibantu anak-anak, saya jalan pelan-pelan ke tempat tidur, minta waktu sebentar untuk bisa kumpulkan tenaga jalan ke mobil. Bapak udah ga sabar nunggu saya bertenaga, jadilah Bapak olahraga angkat beban 53kg alias gendong saya ke mobil. 

Tiba di IGD ditanya macem2 tapi saya udah merasa baikan. Ngapain saya ke IGD yah? Istirahat bentar aja mungkin udah baikan. Mana si perawat resek banget... abis nanya2 malah nyalahin saya minum obat alergi. Bisa jadi obat alergi yang bikin pingsan katanya. Mbok ya ramah dikit gitu...

Tapi sejujurnya belum tau penyebab alergi dan shock anafilaktiknya.
Saya lapor Dokter bahwa pagi minum susu, icip 2-3 jamur krispi kecil yang saya goreng sendiri dan terakhir digigit semut. Bapak juga minum susu dan makan jamur, tidak masalah. Anak2 makan jamur tidak masalah.

Saya diminta rawat inap untuk pantau kondisi krn sempat pingsan.
Oh noo....anak2 gimana kalau ga ada saya. Musim pandemi pula.. horor rasanya nginap di rumah sakit. Tapi yang paling kepikiran adalah anak-anak. Saya minta pulang saja.

Pulangnya saya bisa jalan kaki ke mobil.. nyeker dong karena Bapak lupa bawain sandal. Mau gendong, malu wong udah sehat plus saya dasteran hehe. Tapi untungnya mobil sudah deket ruang IGD, jadi nyekernya masih di lantai bersih. 

Di rumah....tidak ada diare lagi, tidak ada pusing lagi. Lemas iya.. ngantuk iya karena obat alergi. Merah2 guede-guede mulai bermunculan di seluruh tubuh. Bagian-bagian yang pernah digigit semut kembali bengkak seperti saat awal digigit.
Naah mungkin ini biang keladinya...ketauan kalau si semut itu penyebabnya.
Abaikan saja, jangan banyak berpikir dan menyalahkan si semut, saya harus istirahat kumpulkan tenaga.
Keesokan hari bentol memudar sedikiiit tapi kondisi jauh membaik. Obat alergi saya hentikan. Lanjut vitamin saja.
Saya tidak mau mengkambinghitamkan jamur yang biasa saya makan. Dengan sedikit nekat saya kembali mencoba jamur sambil siapkan obat alergi. Tidak terjadi apa-apa... baik-baik saja seperti biasa...

Yaa mulai saat itu, Bapaknya anak-anak mulai dengan jurus basmi semut dan larangan duduk di garasi. Padahal itu tempat favorit banget. Selain buat milih sayur, tangga adalah tempat favorit untuk berjemur sambil nelpon panjang kali lebar kali tinggi dengan Ibu saya.
Tapi daripada kejadian tidak mengenakkan terjadi lagi, saya memilih mengalah sama semut, tidak mendekatinya lagi.

Suatu hari, tidak sengaja kakak juga kegigit semut hitam itu. Dia langsung lapor saya, saya perhatikan bentolnya kecil dan tidak bengkak+melebar seperti saya, jadi sepertinya tidak masalah. Cukup oles minyak tawon dan besoknya sudah hilang.

Jadi.... jangan remehkan sesuatu yang terlihat sepele. Jika terjadi reaksi yang berbeda dari orang kebanyakan, waspadalah...waspadalah!