Pembelajaran Saat BB Overweight

Pulang ke rumah orang tua liburan bulan lalu iseng-iseng melihat-lihat foto jaman dulu. Saya baru inget kalau saya dulu SMA-kuliah gemuk banget :). Hehe lupa atau pura-pura lupa ya?

Jadi ceritanya dulu itu Ibu saya ga masalah dengan berat badan saya yang naik terus. Intinya saya harus jaga kesehatan dengan makan teratur. Kebetulan ga hobby olahraga, hobbynya yang diem-diem aja seperti baca, nonton, kerajinan tangan (kristik). Ditambah saya sering ikut lomba lomba akademik, jadi ceritanya sering begadang belajar dan pastinya orang tua saya karena ga pengen anaknya sakit, jadi menyuguhkan aneka makanan di malam hari hehe.

BB makin meningkat ketika kuliah karena kurangnya aktivitas gerak tubuh. Kebayang waktu sama ortu saya bersihkan rumah, cuci baju sekeluarga pake tangan (ga punya mesin cuci), kadang-kadang harus mandi ke sungai bawa cucian dan air jika air PDAM mati, bantuin ibu jualan nasi bungkus. Begitu kuliah cuman bersihkan 1 kamar doang dan mengurus diri sendiri.

Nah di sebelah kiri ini adalah foto saya awal kuliah. Yang pas kuliah tambah gendut lagi deh kayaknya. Ga punya foto, belum jaman selfie waktu itu hihi.
Sempet minder memang waktu gemuk, tapi agak kurang peduli sama penampilan karena fokusnya lulus kuliah tepat waktu biar cepet dapet kerja dan cepet bantuin keuangan orang tua.
Pas jaman skripsi dan lanjutin apoteker kayaknya lumayan turun sedikit BBnya, cuman ya tetep gemuk. Jadinya emang saya identik dengan gemuk dan bulat :)

Parahnya.. keinginan untuk menurunkan berat badan kecil, jadinya emang ga ada usaha. Berat badan jadi yoyo. Kalau pas banyak tugas atau kegiatan ya turun, kalau pas lowong ya naik lagi.
Trus lulus apoteker bekerjalah saya di pabrik farmasi dimana di ruangan tidak boleh makan dan minum. Kalau minum harus ke ruang minum, itupun hanya air putih saja. Makan siang disediakan kantor, jadi ga bisa pilih menu.

Nah ternyata kebiasaan makan teratur, bekerja teratur, hidup teratur bikin BB menurun sedikit demi sedikit tanpa terasa. Kalau saya dan orang terdekat mungkin ga ngerasa kalau BB menurun. Timbangan juga ga punya :P. Kerasa BB menurun ketika ketemu dengan teman-teman setelah beberapa lama ga ketemu. Semua orang bilang kurusan seperti di foto kanan ini.
Dan bertambah kurus lagi saat menyusui anak. Bener-bener ga menduga efek menyusui bikin sekurus itu, berlebihan kurusnya sehingga keluarga juga protes karena saya terlihat pucat dan bertambah tua daripada umurnya... aww...
Tapi tanpa menambah makan atau suplemen, bb meningkat lagi setelah proses sapih baby :)

Nah judulnya kan pembelajaran tuh.. pembelajaran apa yang saya peroleh?
Orang gemuk itu cenderung diejek dengan cara halus/tidak langsung maupun secara langsung. Saat cuek ya cuek, saat sensitif ya sedih juga wkwk. Itulah sebabnya sekarang saya ga pernah komentar tentang tubuh kurus dan gemuk seseorang karena itu bisa jadi sensitif untuk orang orang yang sensitif.
Karena gemuk, jadi ngerasa ga ada yang suka sama kita, nah dengan demikian kita jadi ga mikirin buat pacaran tapi fokus sama sekolah dan kerjaan hehe
Truuus...untuk ngurusin badan ternyata kuncinya adalah olahraga dan hidup (bekerja, istirahat, makan) teratur, jangan gunakan obat-obatan yang belum tentu aman. Jangan harapkan hasil instant, penurunan bb bertahap akan lebih sehat.

Sekian pengalaman saya, bagi yang sedang menurunkan bb, atur pola makan, imbangi dengan olahraga teratur dan jika memang memutuskan untuk menggunakan obat-obatan, konsultasi dengan dokter aja ya supaya lebih aman :)

Belajar Disiplin

Hari Sabtu, 22 April 2017 diadakan jalan sehat untuk anak TK-TB dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional (HAN). Di buku penghubung guru-orang tua diberitahukan bahwa acara akan dilaksanakan mulai pk. 06.00 - selesai (biasanya selesai kurang lebih jam 8). Biasanya saya dan adik selalu datang minimal 15 menit lebih awal daripada jadwal, tetapi kali ini saya datang pas banget jam 6.00 tiba di lokasi karena harus siapin kakaknya untuk peringatan kartini juga di sekolahnya (ini juga masuk kategori alasan karena seharusnya bisa disiapkan lebih awal :D)
Dalam hati sudah ada feeling ga bakalan telat dan justru acaranya biasanya telat, tapi saya memang ga enak hati untuk datang telat. Tiba di lokasi sudah disambut Bu Guru dan adik adalah peserta pertama dari sekolah yang datang. Menunggu.. 30 menit datang 1 orang lagi. Menunggu... .. dan 7.20 acara baru dimulai.
Dikatakan sudah biasa seperti itu yaaa.. benar saya sering mengalami. Tapi saya sendiri tidak tega mengajarkan hal itu kepada anak-anak. Saya selalu meminta anak-anak siap tiba di tempat sebelum yang dijadwalkan, masalah telat mulai itu urusan belakang.
Ada seribu alasan untuk telat memang, apalagi untuk anak-anak play group dan TK. Ada yang susah dibangunin, ada yang mogok ga mau mandi, ada yang ga mau sarapan, ada yang sibuk nonton ga bisa diberhentikan sampai film-nya selesai. Sama juga kok, anak saya juga begitu, tapi itu tantangan buat saya untuk bisa membuat mereka kembali melihat jam dan datang tepat waktu. Kecuali memang kasus khusus seperti ga enak badan atau yang tidak bisa dipaksakan.
Orang tua saya keduanya guru SD, dimana mereka mengajarkan saya untuk selalu disiplin walau memang tidak bisa saya penuhi semua karena manusia tiada yang sempurna :)
Ada juga pengalaman saudara saya, dimana anaknya kurang disiplin hingga masa kuliah karena sejak kecil selalu dibolehin telat, dibolehin ga masuk dengan alasan sakit (padahal ga sakit) dan alasan lainnya.
Berdasarkan pengalaman orang tua dan saudara saya tersebut makanya saya pengen banget mengajarkan disiplin sejak mereka kecil, ga bisa nanti nanti aja karena akan lebih sulit mengubah "kebiasaan" telat dibandingkan sabar mengajarnya sejak kecil.

Dari tadi ngomongin disiplin, apa sih disiplin itu?
Nah dari Wikipedia saya memperoleh definisi dibawah ini :)

Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya.
Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman di mana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain.
Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting.
Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. Seiring dengan perkembangan zaman, kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudkan keadaan. Disiplin diri berawal dari hal-hal kecil, seperti misalnya bagi pelajar yang mampu membagi waktu untuk belajar , untuk bermain sehingga tak menimbulkan suatu pertabrakan kegiatan pada waktu yang sama. Disiplin diri juga bisa kita lihat dengan contoh sederhana yaitu dengan pelajar tersebut mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dan dikumpulkan di sekolah tepat pada waktunya.

Semoga kita sebagai orang tua bisa diberikan kemampuan untuk disiplin diri sebagai contoh nyata untuk anak-anak dan juga membantu mereka untuk menjadi anak yang disiplin :)

LT2 dan LT3

Kemarin-kemarin banyak nulis di diary saya tentang LT3 ini dan pasang foto anak-anak aja di facebook saya. Tapi akhirnya ingin berbagi disini, siapa tahu ada yang punya pengalaman sama atau mungkin akan menghadapi hal yang sama juga :)
Bagi anak-anak lain atau orang tua lain mungkin ikut kegiatan kemah seperti ini adalah hal biasa. Tapi menjadi luar biasa untuk saya yang belum pernah melepas anak saya menginap dimanapun tanpa keberadaan saya.
Di Surabaya pernah diadakan Persami wajib untuk memecahkan rekor muri dengan peserta persami terbanyak. Itulah pertama kali anak pertama saya (Kakak) menginap di tempat lain tanpa orang tua. Yaa hanya semalam sajaa...tapi rasanya tetap khawatir. Disinilah saya baru merasakan bahwa saya salah tidak mendidik dia jadi mandiri sejak awal. Dia terasa seperti anak-anak terus padahal sudah kelas 5. Dengan alasan dia sibuk belajar, dia hanya membantu pekerjaan orang tua sabtu dan minggu saja, makanan yang saya masak harus sesuai keinginan dia. Tapi sekhawati-khawatirnya saya, saya lepaskan dan berikan kepercayaan, ga usah saya kawal. Tapiii ternyata bukan saya saja yang khawatir dan kekhawatiran mama lain lebih parah. Ada yang membawakan selimut, bantal, dan makannya adalah nasi kotak hahaha...ini mah bukan kemah yaa.. pindah tidur!
Dari persami ini banyak pengalaman menarik juga antara lain:
- Kakak itu paling takut sama laron. Jadi kalau pulang ke bali dan banyak laron dia tinggal teriak, lalu datangkan sang kakek sebagai pahlawan mengusir laron itu. Nah pas persami....kebetulan saya berkunjung karena adiknya mau nonton pentas seni, saya melihat dia memukul laron tanpa rasa jijik dan takut sedikitpun :D. Kemajuan kaaaan....
- Penyakit teledor taruh barang mulai keliatan. Di rumah kan enak yaa...Buuu... hasduk dimana?, Buuu pensilku ilang, Bu buku kakak dimana?. Naaah pas kemah ituu.. jam 4.30 pagi dia sms dan tanya seragamnya dimana? Ohh My God...pengen ngomel juga sih waktu itu...lhaa wong dia yang simpan di tempat kemah kok nanya Ibunya di rumah hahahaha. Tapi saya balas aja : cari pelan-pelan, pasti ada. Dan bener ketemu juga akhirnya. Ganti posisi tidur dengan temannya dan bajunya belum dipindah.
- Dia gak masalah tidur tanpa alas selimut atau sleeping bag, dia cuman tidur berbantal tas dan beralas matras/tikar.
- Makanan juga ternyata ga masalah, cuman memang ga selahap di rumah, tapi dia tahu bahwa dia harus makan apapun sajiannya :)

Pelajaran buat saya adalah untuk membiarkan kakak mengerjakan sendiri "urusan"nya di rumah sehingga lebih mandiri lagi.

Selang beberapa lama, sekolahnya dadakan mengumumkan ada lomba LT2 Penggalang tingkat kecamatan. Karena waktunya mepet (kalau ga salah hanya 5 hari sejak diumumkan), maka kakak pembina rekrut peserta lomba hanya dengan menanyakan : siapa yang pintar di kelas ini?  Mungkin maksudnya supaya mudah diajarin sandi morse, sempahore dan sandi sandi lainnya. Si kakak ikutan terjaring, padahal fisik/badannya paling kecil. Tapi kakak pembinanya ya mungkin sudah memikirkan hal itu sehingga kakak kebagian tugas tugas menghapal, sedangkan bangun tenda diberikan ke yang lain. Dan group 601 jadi juara I di lomba ini untuk group putra dan juara II untuk group putri.
"Isunya" akan ada LT3 di Jombang selama 4 hari 3 malam. Para orang tua udah resah aja harus melepas anaknya lumayan jauh dan lama. Tapi akhirnya tenang karena ga ada kabar akan maju ke LT3 meskipun memperoleh juara I.

Tenangnya ga lama ternyataaa....seminggu sebelum lomba ditelpon kepala sekolah diminta rapat ke sekolah untuk membahas keperluan lomba minggu depannya.
Waaah perasaan para mama udah kacau balau aja. Yang namanya persiapan ada banyak, trus anaknya ga siap karena yang dilombakan banyak, trus urusan hati ga bisa ngelepas juga karena infonya ga boleh ditengok ke dalam tenda, boleh liat dari jauh, boleh bertemu pas jam istirahat.
Para mama udah sepakat ga jadi maju, ga usah ikut aja. Tapiiiii wajah anak-anak lemes pas bilang mau batal, mereka semangat banget, setiap hari latihan buat lomba.
Jadi mikir, ini anak-anak semangat pasti karena belum tau medannya seperti apa di tempat kemah???
Akhirnya dengan terseok seok menyiapkan segala perlengkapan bekerja sama dengan sekolah, berangkatlah mereka dengan bekal ilmu yang tidak terlalu mantap karena latihannya kurang banget dan semangat maju perang dengan 33 peserta lain yang kebanyakan anak-anak SMP.
Mereka semangat, orang tuapun semangat yaaa :)

Bersambung dengan cerita selama LT3 dan pelajaran untuk anak-anak dan orang tuanya :)



Jangan Malas Mikir

"Kebanyakan dari kita tidak mau berusaha berpikir sedikit lebih keras karena malas. Malas mikir...
Jika hal ini dibudayakan maka akan muncul generasi yang punya pikiran tetapi tidak dipakai, dan ini berbahaya.
Hal ini muncul dari kebiasaan orang tua yang mengambil keputusan untuk anaknya dengan alasan agar cepat dan tidak kelamaan.
Jika sudah besar si anak melakukan sesuatu tanpa berpikir, apakah orang tua marah?
Jika sudah berkeluarga si anak sangat nurut sama keputusan pasangan karena tidak terbiasa berpikir, bagaimana perasaan orang tua?
Cara terbaik dan mudah menjadi dewasa adalah dengan berhenti bergaul dengan mereka yang kekanak-kanakan"
#belajar dari buku Juara Kehidupan-Timothy Wibowo

Suka baca buku Juara Kehidupan karena berdasarkan pengalaman dan beberapa memang pernah saya alami sendiri dan juga mendengarkan curhat beberapa orang tua atau teman.
Hal ini saya alami ketika saya masih bekerja kantoran dan sekarang setelah resign pun kadang-kadang masih saya lakukan dengan alasan biar cepat. Dulu pas ngantor, karena waktu terbatas, saya selalu menyiapkan segala kebutuhan anak pada malam hari sehingga di pagi - sore hari si anak melakukan kegiatan yang sudah ditentukan dan menggunakan pakaian yang sudah disiapkan. Hasilnya menakjubkan dalam artian menyedihkan....ketika saya resign dan tanpa ART dan ingin anak-anak mandiri, si kakak yang biasa saya layani karena saya tinggal kerja malah tidak bisa menentukan baju apa yang akan dia gunakan, makan hanya kalau disuguhkan dan hal-hal kecil lainnya. Sedangkan si adik yang saya asuh sendiri sejak dilahirkan terlihat lebih mandiri dalam memutuskan maupun beritndak. Beruntung si kakak baru kelas 3 SD waktu itu, jadi saya mulai latih pelan-pelan untuk bisa mandiri, jangan takut salah dan harus berani bertanggung jawab.
Semoga menjadi anak-anak yang mandiri dan bertanggung jawab kelak yaa... berpikir sebelum bertindak :)

Kehadiran Anak Memberikan Pemikiran Berbeda

Sudah punya anak?
Sudah pernah baca teori tentang pengasuhan anak sebelumnya?
Apakah bisa diterapkan kepada anak-anak kita sesuai teori?
Saya termasuk kategori yang penuh persiapan sebelum melakukan sesuatu. Ada jeleknya juga karena jadi gak maju-maju menunggu semuanya perfect menurut saya dan teori yang saya baca.
Sebelum menikah ada beberapa daftar wajib yang harus dipenuhi dan beberapa buku yang saya baca.
Demikian pula sebelum memiliki anak, ada beberapa persiapan yang saya buat dan beberapa buku yang saya baca serta beberapa peraturan (walau di angan-angan) yang akan saya terapkan berdasarkan pengalaman melihat anak-anak saudara atau tetangga.
Malah saya sempat berpikir dan berencana menunda memiliki anak karena merasa belum siap. Baru pindah kerja ke perusahaan baru dari Kalbe Farma Cikarang ke Bernofarm Sidoarjo, masuk probation dan pastinya targetnya harus tercapai untuk bisa diterima sebagai karyawan tetap.
Tetapi kemudian inget sama usia, dan pikiran untuk menunda itu hanya berlangsung sebulan saja.

Kelahiran anak pertama. sudah disambut dengan beberapa teori. Sejak dalam kandungan sudah disiapkan dari segi mental dan kesehatan. Tapi memang belum takdir, di usia kandungan 5 bulan saya mengalami keguguran. Saya sedikit marah pada diri sendiri, apa yang kurang dari persiapan saya, walau akhirnya harus ikhlas karena mungkin belum dipercaya Tuhan untuk mengasuh anak.
Kehamilan kedua dan keempat memberikan seorang putra dan putri. Selama pengasuhan keduanya hanya sedikit teori yang bisa saya terapkan, selebihnya menyesuaikan dengan keadaan dimana kita sebagai ibu dilatih untuk memiliki feeling so good dan feeling so strong :D.
Dan bersyukur sekali, semuanya berjalan dengan baik, walau tidak sempurna, sempurna hanya milikNYA :)

Saya pernah membaca bahwa telinga ibu sangat peka bahkan disaat sedang tidur. Bener banget. Suatu hari saya batuk flu sakit lumayan parah dan tidak ingin menulari anak. Jadi saya minta bapak tidur dengan Dede dan saya tidur sendiri di kamar sebelah. Jam 2 pagi saya terbangun tiba-tiba, padahal tidur lelap banget setelah minum obat, ngintip ke kamar sebelah dan terlihat Dede sudah terbangun dan duduk di tempat tidur mencari cari saya....

Setelah ada anak tidak ada lagi keinginan untuk membeli sesuatu buat diri sendiri, memasak untuk diri sendiri atau kesenangan diri sendiri. Yang terpikir hanya mengutamakan anak-anak disaat mereka masih membutuhkan bimbingan dan keputusan dari saya. Namun tak lupa saya juga mengajarkan agar mereka mandiri karena kebetulan banget ga ada asistan di rumah.
Ada juga yang bilang saya Martyr Mom yang berbaju kumal atau daster saja yang sibuk melayani anak-anak dan suami serta mengabaikan diri sendiri. Aaah tidak juga yaa :)
Mungkin dilihatnya saya jarang keluar rumah, tapi itu bukan karena ada anak-anak, itu karena saya memang sejak masih gadis jarang keluar rumah jika tidak ada yang harus dikerjakan, apalagi hanya untuk cuci mata di mall....bagi saya itu melelahkan.
Saya tetap punya ME TIME kok. Saat doa, saat bekerja, saat yoga dan saya tetap merawat diri. Untuk baju memang saya tipenya kalau sudah nyaman dengan baju itu ya gak masalah pakai baju yang sama asalkan bersih dan wangi :).

Yaah masih banyak sih pengalaman lain yang membuat saya menjadi orang yang sedikit berbeda dengan sebelum memiliki anak. Semoga para Ibu selalu diberikan kesehatan untuk bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan pastinya menjadi teladan buat mereka, Astungkara :)