Langsingkan Badan, Gendutin Kantong

Apakah anda :
Kurang istirahat karena terlalu sibuk kerja?
Terlalu sering menatap layar komputer?
Kebiasaan makan sambil nonton TV?
Stress karena sering kena macet?
Lupa makan karena jadwal yang terlalu padat?
Aneka kondisi diatas bisa menyebabkan tubuh menjadi kurang sehat dan mudah terkena penyakit
Padahal kalau aktifitas diatas ditinggalkan Bisa-bisa anda tidak punya pemasukan bulan tersebut
Tapi tenang, sekarang ada NUTRISHAKE!!
Apabila anda bergabung bersama d'BC Network
Anda akan mendapatkan Training secara online dan offline
Untuk membantu anda mempelajari sistem bisnis ini secara lengkap, menjual, maupun dalam mengkonsumsi Nutrishake.

Apa saja manfaat Nutrishake?
Manfaat Nutrishake :
- Mengontrol berat badan bila digunakan sesuai wellbeing roadmap
- Membantu Fokus dan konsentrasi
- Memenuhi kebutuhan nutrisi protein, serat, Omega 3 dan 6
- Bebas dari gluten, pewarna kimiawi, GMO dan pengawet
- Mengenyangkan, diminum 30 menit sebelum makan untuk memuaskan rasa lapar
- Meningkatkan energi sehingga stamina terjaga dan gula darah tidak melonjak
- Alami dan aman karena menggunakan bahan-bahan bermutu yang alami.

Dapat dikonsumsi sejak usia 3 tahun. Tambahkan buah, blender dan sajikan dingin sehingga lebih disukai anak-anak :)



Berpikir, Berkata dan Bertindak Positif

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap tingkah laku kita. Ini bukan sekedar slogan atau kata mutiara belaka. Kebetulan saya mengalaminya sendiri dan bersyukur saya selalu menemukan lingkungan positif tempat saya belajar.
Suatu saat saya pernah berada di lingkungan yang kata-katanya kebanyakan negatif, mengejek dan ketika bertemu komentar pertama yang diberikan adalah hal yang kurang baik dari penampilan kita :)
Salah satu contoh mengejek adalah ketika kita bercerita kemudian kita bertanya tentang sesuatu hal yang tidak kita ketahui mereka akan bilang : aaah masa gitu aja ga tau, kemana aja lu?
Lhaaa iyaaa waktu itu saya memang ga tau, saya memang kuper hehe...kaget juga memperoleh jawaban seperti itu tapi kemudian saya jawab aja dengan polos : iyaa saya memang ga tahu, ada yang mau jelasin? Kalau ga ada ya ga apa-apa :).
Tapi setelah itu saya jadi males bertanya lagi, mending saya browsing atau bertanya pada suami di rumah.
Contoh komentar negatif saat bertemu ada banyak sih yaa karena memang akhirnya hal seperti itu jadi menular ke orang lain. Misalnya bajumu kegedean ya? Lipstikmu kok warnanya pucet gitu? Kamu gemukan ya, perutmu jadi keliatan besar gitu? Rambutmu kok kayak gitu? Dan lain-lain :). Awal-awal cukup membuat kita jadi ga enak hati kan dikatain seperti itu..takutnya ga pantas untuk tampil di tempat kerja, tapi kemudian sadar bahwa memang sifatnya seperti itu ya sudahlah.. enjoy aja dengan keadaan diri sendiri :).
Nah itu contoh lingkungan negatif.
Di suatu lingkungan positif saya belajar berkata yang baik, berpikir yang baik dan pastinya bertindak yang baik. Pernah karena suatu kebiasaan bersama teman lama, setiap ada hal yang kurang baik suka bilang : ah sialan...
Nah saya langsung kena tegur deh sama si temen ini. Ga boleh yaa bilang sialan, atau sial atau ucapan yang mengumpat seperti itu, ga baik.
Demikian juga ketika saya berpikir kurang baik dan kemudian saya cetuskan, entah berpikir negatif atau pesimis, saya pasti diingatkan dengan baik-baik yang membuat saya sadar bahwa saya harus belajar mengubah pikiran, perkataan dan tindakan saya menjadi lebih baik dan lebih positif serta lebih optimis.

Karena pengalaman itu, saya pun sering mengingatkan anak-anak untuk selalu berpikir, berkata, bertindak baik dan positif. Tentu saja dengan kita sebagai orang tua yang memberikan contohnya sehari-hari. Kadang jika kita lupa karena mungkin sedang emosi .... malah mereka yang meningatkan kita :). Demikian juga dengan memilih teman bermain. Saya tidak melarang mereka bermain dengan siapa saja namun saya minta mereka perhatikan bahasa dan tindakan kesehariannya, jika kurang baik dan kita serasa pengen menirunya, saya minta untuk sedikit jaga jarak dengan mereka dalam artinya tidak nempel terus bermainnya. Karena ketika mereka berteman dengan teman yang berkata kasar, mereka akan ikut berkata kasar. Demikian juga ketika mereka banyak bergaul dengan teman yang tidak pernah belajar, maka anak-anak juga jadi malas belajar.
Semoga kita semua selalu bisa mengendalikan diri sehingga bisa berpikir, berkata dan bertinda positif sehingga memberikan perasaan positif dan damai :)

Pizza buatan rumah

Akhirnya pizza-nya jadiiii!!
Saya gak pinter masak, tapi saya ingin menyediakan beberapa makanan yang disukai anak-anak selain masakan sehari-hari.
Anak pertama saya suka banget dengan pizza. Jika waktunya beli pizza, 4 potong pizza reguler habis dalam sekali makan, sedangkan saya yang dewasa saja makan 2 potong rasanya kekenyangan banget :)

Iseng-iseng liat postingan temen di facebook dan bertanya resepnya. Mumpung ga butuh oven karena saya ga punya oven, melainkan dimasak di wajan teflon saja.
Resepnya sebagai berikut :
  1. 1,5 sdt ragi + 2 sdt gula pasir + 100ml air hangat, diamkan 15 menit, nanti akan timbul busa di bagian atas
  2. 200g terigu + 2 sdm minyak goreng + 1/2sdt garam + larutan 1 --> aduk dan tambahan 140ml air
  3. Tutup adonan dengan lap basah dan diamkan kurang lebih 1 jam
  4. Masukkan ke dalam kulkas dan diamkan selama 7 jam
  5. Masak dengan cara diratakan di atas teflon, tusuk-tusuk dengan garpu dan beri toping. Tutup wajan dan tunggu hingga matang.
Beberapa kali buat hasilnya bantat. Saya bingung juga salah dibagian mananya. Sempat mencari resep lain juga tapi hasilnya sama. Hingga ragi yang saya beli di ruko deket rumah habis. Akhirnya saking penasaran plus keki ditungguin hasilnya sama anak-anak saya beli ragi kembali di supermarket karena kebetulan ke supermarket.
Saya coba buat lagi dan akhirnya berhasil!!! Ternyata mungkin raginya yang udah agak lama, padahal mereknya sama.
Dan yang terpenting sih anak-anak suka banget :). Waktu bikinnya juga ga terlalu lama dan ga banyak cuci cuci perabot dapur hehe. Soalnya saya paling males bagian cuci-cucinya kalau pas masak, maklum ga ada asisten. Semua dikerjan sendiri :)

Yang mau coba buat pizza sendiri di rumah, selamat mencoba semoga langsung sukses :)

Pembelajaran Saat BB Overweight

Pulang ke rumah orang tua liburan bulan lalu iseng-iseng melihat-lihat foto jaman dulu. Saya baru inget kalau saya dulu SMA-kuliah gemuk banget :). Hehe lupa atau pura-pura lupa ya?

Jadi ceritanya dulu itu Ibu saya ga masalah dengan berat badan saya yang naik terus. Intinya saya harus jaga kesehatan dengan makan teratur. Kebetulan ga hobby olahraga, hobbynya yang diem-diem aja seperti baca, nonton, kerajinan tangan (kristik). Ditambah saya sering ikut lomba lomba akademik, jadi ceritanya sering begadang belajar dan pastinya orang tua saya karena ga pengen anaknya sakit, jadi menyuguhkan aneka makanan di malam hari hehe.

BB makin meningkat ketika kuliah karena kurangnya aktivitas gerak tubuh. Kebayang waktu sama ortu saya bersihkan rumah, cuci baju sekeluarga pake tangan (ga punya mesin cuci), kadang-kadang harus mandi ke sungai bawa cucian dan air jika air PDAM mati, bantuin ibu jualan nasi bungkus. Begitu kuliah cuman bersihkan 1 kamar doang dan mengurus diri sendiri.

Nah di sebelah kiri ini adalah foto saya awal kuliah. Yang pas kuliah tambah gendut lagi deh kayaknya. Ga punya foto, belum jaman selfie waktu itu hihi.
Sempet minder memang waktu gemuk, tapi agak kurang peduli sama penampilan karena fokusnya lulus kuliah tepat waktu biar cepet dapet kerja dan cepet bantuin keuangan orang tua.
Pas jaman skripsi dan lanjutin apoteker kayaknya lumayan turun sedikit BBnya, cuman ya tetep gemuk. Jadinya emang saya identik dengan gemuk dan bulat :)

Parahnya.. keinginan untuk menurunkan berat badan kecil, jadinya emang ga ada usaha. Berat badan jadi yoyo. Kalau pas banyak tugas atau kegiatan ya turun, kalau pas lowong ya naik lagi.
Trus lulus apoteker bekerjalah saya di pabrik farmasi dimana di ruangan tidak boleh makan dan minum. Kalau minum harus ke ruang minum, itupun hanya air putih saja. Makan siang disediakan kantor, jadi ga bisa pilih menu.

Nah ternyata kebiasaan makan teratur, bekerja teratur, hidup teratur bikin BB menurun sedikit demi sedikit tanpa terasa. Kalau saya dan orang terdekat mungkin ga ngerasa kalau BB menurun. Timbangan juga ga punya :P. Kerasa BB menurun ketika ketemu dengan teman-teman setelah beberapa lama ga ketemu. Semua orang bilang kurusan seperti di foto kanan ini.
Dan bertambah kurus lagi saat menyusui anak. Bener-bener ga menduga efek menyusui bikin sekurus itu, berlebihan kurusnya sehingga keluarga juga protes karena saya terlihat pucat dan bertambah tua daripada umurnya... aww...
Tapi tanpa menambah makan atau suplemen, bb meningkat lagi setelah proses sapih baby :)

Nah judulnya kan pembelajaran tuh.. pembelajaran apa yang saya peroleh?
Orang gemuk itu cenderung diejek dengan cara halus/tidak langsung maupun secara langsung. Saat cuek ya cuek, saat sensitif ya sedih juga wkwk. Itulah sebabnya sekarang saya ga pernah komentar tentang tubuh kurus dan gemuk seseorang karena itu bisa jadi sensitif untuk orang orang yang sensitif.
Karena gemuk, jadi ngerasa ga ada yang suka sama kita, nah dengan demikian kita jadi ga mikirin buat pacaran tapi fokus sama sekolah dan kerjaan hehe
Truuus...untuk ngurusin badan ternyata kuncinya adalah olahraga dan hidup (bekerja, istirahat, makan) teratur, jangan gunakan obat-obatan yang belum tentu aman. Jangan harapkan hasil instant, penurunan bb bertahap akan lebih sehat.

Sekian pengalaman saya, bagi yang sedang menurunkan bb, atur pola makan, imbangi dengan olahraga teratur dan jika memang memutuskan untuk menggunakan obat-obatan, konsultasi dengan dokter aja ya supaya lebih aman :)

Belajar Disiplin

Hari Sabtu, 22 April 2017 diadakan jalan sehat untuk anak TK-TB dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional (HAN). Di buku penghubung guru-orang tua diberitahukan bahwa acara akan dilaksanakan mulai pk. 06.00 - selesai (biasanya selesai kurang lebih jam 8). Biasanya saya dan adik selalu datang minimal 15 menit lebih awal daripada jadwal, tetapi kali ini saya datang pas banget jam 6.00 tiba di lokasi karena harus siapin kakaknya untuk peringatan kartini juga di sekolahnya (ini juga masuk kategori alasan karena seharusnya bisa disiapkan lebih awal :D)
Dalam hati sudah ada feeling ga bakalan telat dan justru acaranya biasanya telat, tapi saya memang ga enak hati untuk datang telat. Tiba di lokasi sudah disambut Bu Guru dan adik adalah peserta pertama dari sekolah yang datang. Menunggu.. 30 menit datang 1 orang lagi. Menunggu... .. dan 7.20 acara baru dimulai.
Dikatakan sudah biasa seperti itu yaaa.. benar saya sering mengalami. Tapi saya sendiri tidak tega mengajarkan hal itu kepada anak-anak. Saya selalu meminta anak-anak siap tiba di tempat sebelum yang dijadwalkan, masalah telat mulai itu urusan belakang.
Ada seribu alasan untuk telat memang, apalagi untuk anak-anak play group dan TK. Ada yang susah dibangunin, ada yang mogok ga mau mandi, ada yang ga mau sarapan, ada yang sibuk nonton ga bisa diberhentikan sampai film-nya selesai. Sama juga kok, anak saya juga begitu, tapi itu tantangan buat saya untuk bisa membuat mereka kembali melihat jam dan datang tepat waktu. Kecuali memang kasus khusus seperti ga enak badan atau yang tidak bisa dipaksakan.
Orang tua saya keduanya guru SD, dimana mereka mengajarkan saya untuk selalu disiplin walau memang tidak bisa saya penuhi semua karena manusia tiada yang sempurna :)
Ada juga pengalaman saudara saya, dimana anaknya kurang disiplin hingga masa kuliah karena sejak kecil selalu dibolehin telat, dibolehin ga masuk dengan alasan sakit (padahal ga sakit) dan alasan lainnya.
Berdasarkan pengalaman orang tua dan saudara saya tersebut makanya saya pengen banget mengajarkan disiplin sejak mereka kecil, ga bisa nanti nanti aja karena akan lebih sulit mengubah "kebiasaan" telat dibandingkan sabar mengajarnya sejak kecil.

Dari tadi ngomongin disiplin, apa sih disiplin itu?
Nah dari Wikipedia saya memperoleh definisi dibawah ini :)

Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya.
Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman di mana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain.
Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting.
Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. Seiring dengan perkembangan zaman, kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudkan keadaan. Disiplin diri berawal dari hal-hal kecil, seperti misalnya bagi pelajar yang mampu membagi waktu untuk belajar , untuk bermain sehingga tak menimbulkan suatu pertabrakan kegiatan pada waktu yang sama. Disiplin diri juga bisa kita lihat dengan contoh sederhana yaitu dengan pelajar tersebut mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dan dikumpulkan di sekolah tepat pada waktunya.

Semoga kita sebagai orang tua bisa diberikan kemampuan untuk disiplin diri sebagai contoh nyata untuk anak-anak dan juga membantu mereka untuk menjadi anak yang disiplin :)