Guruku Tersayang

Pagiku Cerahku
Matahari bersinar
kugendong tas merahku
di pundak

Selamat pagi semua
kunantikan dirimu
di depan kelasmu
menantikan kami

Ref :
Guruku Tersayang
Guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku

Nyatanya diriku
Kadang buatmu marah
Namun segala ma'af
Kau berikan

Anak Suka Marah Meledak-ledak?

Anak yang suka marah meledak-ledak secara tiba-tiba disebut temper tantrum, pada umumnya terjadi pada anak usia 1-4 tahun, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak yang lebih tua. Temper tantrum biasa terjadi karena beberapa hal pemicu di antaranya, anak merasa frustasi, kelelahan, orangtua terlalu mengekang, sifat dasar anak yang emosional, serta keinginannya tidak dipenuhi. Lalu bagaimana mengatasinya?
Mengatasi anak yang sedang mengamuk itu gampang-gampang susah, penuh dilemma. Namun ada beberapa tips yang dapat kita gunakan untuk mengatasi masalah ini:
1. Cari tahu penyebabnya
Dengan mengetahui penyebab anak-anak mengamuk, kita akan dapat menentukan langkah yang harus kita ambil dalam menghadapi mereka.
2. Jangan ikut emosi.
Biasanya, orang tua akan ikut-ikutan menjadi emosi manakala anak mereka mengamuk. Orang tua bisa memukul, mencubit, marah-marah, dsb. Namun itu bukan solusi. Anak-anak bukannya akan belajar mengatasi kemarahannya, tetapi malah semakin menganggap orangtuanya jahat.
3. Abaikan marahnya dan ajari anak mengatasi kemarahannya
Jangan turuti semua hal yang diinginkan anak. Bersikap cuek dan tidak mempedulikan kemarahannya adalah cara yang sangat jitu untuk membuatnya tahu bahwa kemarahannya tidak bisa membeli keinginannya. Kemudian katakan padanya, bahwa hanya anak-anak yang menyampaikan keinginannya dengan cara yang baiklah yang akan mendapatkan keinginannya itu dari Anda. Bukan dengan amukan, tangisan, bahkan berguling-guling. Namun hal ini tidak mudah, karena memerlukan sikap konsistensi Anda. Dengan sikap ini akan membuatnya berlatih untuk disiplin.
4. Sudut diam
Dalam pengertian, bukan mengurung anak di kamar atau gudang. Cukup sediakan kursi yang disebut sudut diam. Saat mengamuk, dudukkan anak Anda di sana, dan ia tidak boleh kemana-mana sampai bisa menenangkan diri. Atau boleh juga meminta anak masuk ke kamarnya untuk menenangkan diri (tanpa dikunci) dan ia boleh keluar dan menyapa Anda jika sudah tenang.
Normalnya ketika usia 5 tahun dan sudah bersekolah, anak-anak bisa mengatasi gejolak emosinya dengan bergaul bersama teman-temannya. Namun jika bertahun-tahun selama sekolah mereka belum juga bisa mengatasi gejolak emosinya, kemungkinan anak tersebut bermasalah dengan dalam emosinya, dan Anda butuh berkonsultasi dengan ahlinya untuk mengatasi masalah ini.

Langsingkan Badan, Gendutin Kantong

Apakah anda :
Kurang istirahat karena terlalu sibuk kerja?
Terlalu sering menatap layar komputer?
Kebiasaan makan sambil nonton TV?
Stress karena sering kena macet?
Lupa makan karena jadwal yang terlalu padat?
Aneka kondisi diatas bisa menyebabkan tubuh menjadi kurang sehat dan mudah terkena penyakit
Padahal kalau aktifitas diatas ditinggalkan Bisa-bisa anda tidak punya pemasukan bulan tersebut
Tapi tenang, sekarang ada NUTRISHAKE!!
Apabila anda bergabung bersama d'BC Network
Anda akan mendapatkan Training secara online dan offline
Untuk membantu anda mempelajari sistem bisnis ini secara lengkap, menjual, maupun dalam mengkonsumsi Nutrishake.

Apa saja manfaat Nutrishake?
Manfaat Nutrishake :
- Mengontrol berat badan bila digunakan sesuai wellbeing roadmap
- Membantu Fokus dan konsentrasi
- Memenuhi kebutuhan nutrisi protein, serat, Omega 3 dan 6
- Bebas dari gluten, pewarna kimiawi, GMO dan pengawet
- Mengenyangkan, diminum 30 menit sebelum makan untuk memuaskan rasa lapar
- Meningkatkan energi sehingga stamina terjaga dan gula darah tidak melonjak
- Alami dan aman karena menggunakan bahan-bahan bermutu yang alami.

Dapat dikonsumsi sejak usia 3 tahun. Tambahkan buah, blender dan sajikan dingin sehingga lebih disukai anak-anak :)



Berpikir, Berkata dan Bertindak Positif

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap tingkah laku kita. Ini bukan sekedar slogan atau kata mutiara belaka. Kebetulan saya mengalaminya sendiri dan bersyukur saya selalu menemukan lingkungan positif tempat saya belajar.
Suatu saat saya pernah berada di lingkungan yang kata-katanya kebanyakan negatif, mengejek dan ketika bertemu komentar pertama yang diberikan adalah hal yang kurang baik dari penampilan kita :)
Salah satu contoh mengejek adalah ketika kita bercerita kemudian kita bertanya tentang sesuatu hal yang tidak kita ketahui mereka akan bilang : aaah masa gitu aja ga tau, kemana aja lu?
Lhaaa iyaaa waktu itu saya memang ga tau, saya memang kuper hehe...kaget juga memperoleh jawaban seperti itu tapi kemudian saya jawab aja dengan polos : iyaa saya memang ga tahu, ada yang mau jelasin? Kalau ga ada ya ga apa-apa :).
Tapi setelah itu saya jadi males bertanya lagi, mending saya browsing atau bertanya pada suami di rumah.
Contoh komentar negatif saat bertemu ada banyak sih yaa karena memang akhirnya hal seperti itu jadi menular ke orang lain. Misalnya bajumu kegedean ya? Lipstikmu kok warnanya pucet gitu? Kamu gemukan ya, perutmu jadi keliatan besar gitu? Rambutmu kok kayak gitu? Dan lain-lain :). Awal-awal cukup membuat kita jadi ga enak hati kan dikatain seperti itu..takutnya ga pantas untuk tampil di tempat kerja, tapi kemudian sadar bahwa memang sifatnya seperti itu ya sudahlah.. enjoy aja dengan keadaan diri sendiri :).
Nah itu contoh lingkungan negatif.
Di suatu lingkungan positif saya belajar berkata yang baik, berpikir yang baik dan pastinya bertindak yang baik. Pernah karena suatu kebiasaan bersama teman lama, setiap ada hal yang kurang baik suka bilang : ah sialan...
Nah saya langsung kena tegur deh sama si temen ini. Ga boleh yaa bilang sialan, atau sial atau ucapan yang mengumpat seperti itu, ga baik.
Demikian juga ketika saya berpikir kurang baik dan kemudian saya cetuskan, entah berpikir negatif atau pesimis, saya pasti diingatkan dengan baik-baik yang membuat saya sadar bahwa saya harus belajar mengubah pikiran, perkataan dan tindakan saya menjadi lebih baik dan lebih positif serta lebih optimis.

Karena pengalaman itu, saya pun sering mengingatkan anak-anak untuk selalu berpikir, berkata, bertindak baik dan positif. Tentu saja dengan kita sebagai orang tua yang memberikan contohnya sehari-hari. Kadang jika kita lupa karena mungkin sedang emosi .... malah mereka yang meningatkan kita :). Demikian juga dengan memilih teman bermain. Saya tidak melarang mereka bermain dengan siapa saja namun saya minta mereka perhatikan bahasa dan tindakan kesehariannya, jika kurang baik dan kita serasa pengen menirunya, saya minta untuk sedikit jaga jarak dengan mereka dalam artinya tidak nempel terus bermainnya. Karena ketika mereka berteman dengan teman yang berkata kasar, mereka akan ikut berkata kasar. Demikian juga ketika mereka banyak bergaul dengan teman yang tidak pernah belajar, maka anak-anak juga jadi malas belajar.
Semoga kita semua selalu bisa mengendalikan diri sehingga bisa berpikir, berkata dan bertinda positif sehingga memberikan perasaan positif dan damai :)

Pizza buatan rumah

Akhirnya pizza-nya jadiiii!!
Saya gak pinter masak, tapi saya ingin menyediakan beberapa makanan yang disukai anak-anak selain masakan sehari-hari.
Anak pertama saya suka banget dengan pizza. Jika waktunya beli pizza, 4 potong pizza reguler habis dalam sekali makan, sedangkan saya yang dewasa saja makan 2 potong rasanya kekenyangan banget :)

Iseng-iseng liat postingan temen di facebook dan bertanya resepnya. Mumpung ga butuh oven karena saya ga punya oven, melainkan dimasak di wajan teflon saja.
Resepnya sebagai berikut :
  1. 1,5 sdt ragi + 2 sdt gula pasir + 100ml air hangat, diamkan 15 menit, nanti akan timbul busa di bagian atas
  2. 200g terigu + 2 sdm minyak goreng + 1/2sdt garam + larutan 1 --> aduk dan tambahan 140ml air
  3. Tutup adonan dengan lap basah dan diamkan kurang lebih 1 jam
  4. Masukkan ke dalam kulkas dan diamkan selama 7 jam
  5. Masak dengan cara diratakan di atas teflon, tusuk-tusuk dengan garpu dan beri toping. Tutup wajan dan tunggu hingga matang.
Beberapa kali buat hasilnya bantat. Saya bingung juga salah dibagian mananya. Sempat mencari resep lain juga tapi hasilnya sama. Hingga ragi yang saya beli di ruko deket rumah habis. Akhirnya saking penasaran plus keki ditungguin hasilnya sama anak-anak saya beli ragi kembali di supermarket karena kebetulan ke supermarket.
Saya coba buat lagi dan akhirnya berhasil!!! Ternyata mungkin raginya yang udah agak lama, padahal mereknya sama.
Dan yang terpenting sih anak-anak suka banget :). Waktu bikinnya juga ga terlalu lama dan ga banyak cuci cuci perabot dapur hehe. Soalnya saya paling males bagian cuci-cucinya kalau pas masak, maklum ga ada asisten. Semua dikerjan sendiri :)

Yang mau coba buat pizza sendiri di rumah, selamat mencoba semoga langsung sukses :)