Guru Dianggap Tidak bisa Mengajar, Apa Yang Dilakukan?

Suatu hari saat SMA, saya dipanggil guru BP. Dagdigdug juga apa kesalahan saya. Ternyata saya ditanya tentang cara mengajar seorang guru yang katanya dilaporkan anak-anak lain kurang dalam mengajar sehingga nilai ulangan banyak yang jelek sedangkan nilai saya ya ga bagus-bagus amat sih, tapi lumayan :D

Asline saya juga ndak ngerti kalau diajarin guru tersebut hihi. Tapi saya tidak merasa itu kesalahan guru waktu itu. Saya merasa saya memang kurang suka dengan pelajaran itu sehingga ga terlalu tertarik dan kurang menyimak juga. Ga kepikiran nanya temen-temen apakah mereka juga ga ngerti atau baik baik saja.

Karena kekurangan saya tersebut dan saya juga ga tergantung sama gurunya, jadi untuk mengatasi ketidakmengertian saya, saya minta diajarin sama kakak sepupu yang kebetulan waktu itu mengambil kuliah jurusan tersebut. Mungkin itu yang bikin saya lebih ngerti. Namun sekali lagi, saya merasa itu adalah faktor dari saya yang merasa lebih nyaman diajarin kakak.

Dan kepada guru BP saya menjawab apa adanya aja : Oh kata siapa pak? Kalau saya sih emang ga ngerti pak karena kebetulan saya memang ga suka pelajaran itu pak. Tapi karena saya ga mau nilainya jelek, jadi saya nanya caranya ke kakak sepupu saya yang kebetulan bisa pelajaran itu.

Entah jawaban saya membantu atau tidak, tapi memang itu yang saya alami. Daripada saya mengeluh tentang faktor dari luar yaitu si Guru, mending saya cari cara supaya saya tetap bisa dengan cara lain. Tapi temen-temen juga ada benarnya mengkomunikasikan hal tersebut dengan guru BP sehingga menjadi masukan buat guru yang bersangkutan dan sekolah untuk evaluasi menuju hasil yang lebih baik.

First Impression Strap Watch dari Oriflame


Gabung Oriflame bersama grup d’BC Network di bulan Oktober 2018 dan Anda bisa mendapatkan “First Impression Strap Watch" GRATIS senilai total Rp 599.000,-

Hanya dengan berbelanja 150 BP atau 200 BP saja!

Caranya:
- Minimal usia 18 tahun keatas dan sudah memiliki KTP, pendaftaran dengan Rp. 19.900,- (khusus yang belum pernah menjadi member Oriflame)
- Lakukanlah order minimal 150 BP (Bonus Points) di bulan Oktober dan dapatkan First Impression Strap Watch dengan harga sebesar Rp 49.900
Atau
- Lakukanlah order sebanyak 200 BP (Bonus Points) di bulan Oktober 2018 dan dapatkan First Impression Strap Watch GRATIS

*Syarat dan ketentuan berlaku

Yuk segera daftar sekarang!
Klik “Daftar Disini” untuk bergabung!

Syarat dan Ketentuan
1. Program BC Reguler yaitu diskon 50% untuk 1 produk masih berlaku
2. Berlaku untuk semua konsultan
3. Tidak berlaku kelipatan, piliha salah satu dari 2 cara yaitu order 150BP atau 200BP
4. BP total 150BP atau 200BP boleh diakumulasikan dalam beberapa invoice
5. Jika berhasil 150BP maka anda masuk ke penawaran anda dan pilih hadiah untuk dibayar senilai Rp.49.900
6. Jika berhasil 200BP maka hadiah otomatis masuk dalam orderan
7. BP yang dihitung adalah setelah cancel order, jadi jika cancel bulan depan, hadiah batal
8. Hadiah diperoleh bulan November 2018 saat melakukan order minimal Rp. 249.000 (produk yg ada BPnya dan tidak termasuk produk BC)
9. Bila stok habis, hadiah dapat diganti oleh oriflame, makanya klaim hadiahnya awal bulan yaa

Chic & Stylish, Untuk Member Baru Oriflame di Oktober 2018

Bunda dan adik-adik belum menjadi Konsultan Oriflame?
Gabung sekarang yuk bersama grup kami d’BC Network, ada promo menarik lho di bulan Oktober 2018 ini.


Cara Bergabung:
1. Minimal usia 18 tahun keatas dan sudah memiliki KTP, maka Anda bisa mendaftarkan diri sebagai Konsultan Oriflame melalui grup d’BC Network hanya dengan Rp 19.900,-
2. Penuhi kualifikasi WP1-WP3 untuk mendapatkan produk senilai lebih dari Rp 600.000,-

3 Langkah Mudah untuk mendapatkan keuntungan di Promo ini:

Step 1. Periode WP1
Raih kualifikasi Welcome Program Step 1 dengan mengakumulasikan pembelanjaan pribadi hingga 100 BP (Bonus Points) selama 30 hari pertama sejak bergabung sebagai Konsultan Oriflame dan dapatkan 1 Lightweight Lux Cosmetic Pouch senilai Rp 219.000,- GRATIS!

Step 2. Periode WP2
Raih kualifikasi Welcome Program Step 2 dengan mengakumulasikan pembelanjaan pribadi hingga 100 BP (Bonus Points) di bulan kedua setelah meraih kualifikasi Welcome Program 1 dan dapatkan 1 produk di katalog senilai Rp 199.000,-GRATIS!

Step 3. Periode WP3
Raih kualifikasi Welcome Program Step 3 dengan mengakumulasikan pembelanjaan pribadi hingga 100 BP (Bonus Points) di bulan ketiga setelah meraih kualifikasi Welcome Program 2 dan dapatkan 1 produk di katalog senilai Rp 249.000,-GRATIS!

Total hadiah produk senilai Rp 667.000,-GRATIS bisa Anda dapatkan dengan mudah.

Syarat & Ketentuan:
  1. BP (Bonus Points) adalah poin yang didapat setiap melakukan pembelian produk Oriflame. BP untuk setiap produk Oriflame dapat dilihat pada tabel harga konsultan (CPL). Keterangan lebih lanjut mengenai perolehan BP dapat dilihat pada buku Consultant Manual (Getting Started).
  2. Pendaftaran member baru sebesar Rp. 19.900,- hanya berlaku untuk member baru yang terdaftar di Bulan Oktober 2018
  3. Welcome Program 1 dapat diraih selama 30 hari sejak bergabung
  4. Nilai produk untuk hadiah WP2 dan WP3 berdasarkan harga normal katalog dan tidak berlaku untuk semua produk Wellbeing, Elektronik dan Skin Care Set
  5. Untuk bisa mendapatkan hadiah WP1, WP2, WP3 maka pembelanjaan BP di bulan pengambilan hadiah minimal Rp249.000,- (tidak termasuk produk BC) : Khusus WP1, kode produk akan muncul otomatis, sedangkan WP2 dan WP3, kode produk harus diisi di kolom hadiah WP
  6. Batas pengambilan hadiah adalah satu periode katalog setelah memenuhi kualifikasi
  7. Program ini tidak berlaku kelipatan
  8. Produk tidak melakukan stok ulang jika stok hadiah Lightweight Lux Cosmetic Pouch habis, hadiah akan diganti dengan nilai yang sama
  9. Informasi lebih lengkap dapat Anda lihat di situs Oriflame: id.oriflame.com.

Berhutang dan Melunasinya

Ketika seorang teman curhat karena uang yang dipinjamkan ga balik dan saya cuman bisa mesem aja...
Iya saya juga beberapa kali mengalami dan ga tau solusinya supaya uang bisa balik selain mengikhlaskannya. Yang penting kita sudah mengingatkannya sekali dua kali. Daripada abis waktu tenaga dan pikiran jadi ya anggap bukan rejeki kita.

Tapi jika saya dalam posisi berhutang, saya biasanya mencatat jumlah hutang, kepada siapa dan deadline waktu membayar yang saya janjikan. Saat terima gaji yang pertama disisihkan adalah bayar kewajiban, termasuk hutang. Kadang kita berani berhutang karena butuh dan merasa punya uang untuk melunasinya sesuai waktu prediksi kita. Tapi bagaimana jika rencana kita meleset, uang ga ada buat bayar utang? Segera infokan kepada tempat kita punya utang supaya ga ditunggu-tunggu karena siapa tahu uang yang kita janjikan sudah dialokasikan untuk sesuatu juga, jangan sampai karena kita ga ngasih info kita merusak rencana matang si yang kita pinjami uang. Kita bisa minta tempo lebih lama atau cicilan lebih rendah lalu niatkan untuk membayar. Yang namanya niat pasti kita usaha banget yaa.... kalau memang harus menyisihkan minimal 1000-5000 sehari, sebulan kan jadi lumayan juga daripada ditunda-tunda dan berharap dari penghasilan besar untuk bisa melunasi utang.

Untuk yang diutangin, ketika memberikan utang, bisa menata hati untuk mengikhlaskan jika memang ga balik, sehinggaaa memang harus dipikirkan ketika memberikan pinjaman, seberapa mendesak kebutuhannya. Hutang itu ada kan ada yang konsumtif ada yang buat investasi.
Tapi biasanya saya bilangnya hutang ke bank untuk kredit keras dan hutang ke teman atau saudara untuk kredit lunak. Saking lunaknya kadang sering dilupakan dan ditunda-tunda pembayarannya :D

Perlukah Les Tambahan?

Les atau tambahan pelajaran di luar jam pelajaran sekolah sudah ada sejak jaman saya sekolah SMP. SD saya di desa dan ga ada istilah les, semua belajar di rumah sepulang sekolah. Nilainya pun bersaing dengan sekolah di kota pada saat itu.
Ketika SMP teman-teman saya ada yang les dan ada yang tidak. Saya dengan alasan terlalu jauh dan merasa masih bisa belajar sendiri plus alasan ekonomi, saya belajar di rumah.
Pun ketika SMA, dimana saya sekolah semakin jauh dari rumah, ketika teman-teman saya juga sibuk les tambahan, saya kembali karena alasan rumahnya jauh di desa jadi tidak mengikuti les di tahun-tahun awal. Saya terpaksa mengikuti les tambahan ketika merasa tertinggal di kelas, karena kayaknya banyak di bahas di tempat les juga. Bersyukur nilainya baik dan bisa diterima di perguruan tinggi idaman ITB walaupun pada pilihan kedua yaitu Farmasi.

Nah itu jaman duluuuu... begitu kata anak-anak zaman now :D
Jaman sekarang les dimulai dari TK ibu-ibu, bapak-bapak. Jadi ketika si kakak bilang temennya les dan waktu itu saya masih bekerja kantoran sehingga jarang ke sekolah untuk memantau lingkungan sekolah, saya hanya mengernyitkan dahi. Les apa? Ngapain aja? Berapa jam? Bayar berapa? Ga jenuh pulang sekolah langsung les untuk anak usia 5 tahun? Udah kakak ga usah les ya, kita belajar di rumah saja.
Demikian juga ketika SD, saya tidak mengikutkan kakak les hingga kelas 6. Sempet ikut les bahasa inggris tapi kemudian berhenti dengan pertimbangan, setiap pulang les saya cek hari ini diajarin apa? mana buku catatan hari ini? Lhooo kok itu lagi itu lagi. Kata kakak bahas itu lagi karena ada temen yang kemairn ga masuk, ada temen yang belum ngerti dan alasan lain. Rugi kan tiap dateng bahas yang sama padahal kakak udah ngerti?

Sewaktu kelas 6, di sekolah ada tambahan pelajaran setelah sekolah. Di luarpun lembaga bimbel gencar promosi. Wah kayak gini ya anak SD sekarang. Saya diskusi dengan suami, perlukan ikut bimbel? Atau kita ajarin di rumah aja?
Akhirnya kami bertanya ke anaknya. Mau ikut bimbel? Seneng ga? Capek ga?
Anaknya bilang mau dan lebih suka belajar bersama teman :)

Demikian juga untuk si adik yang sekarang kelas 2, sejak TK hingga sekarang belajar di rumah tanpa les. Sewaktu TK sempat sih merengek minta les karena semua temannya les, hanya dia saja yang tidak les :D. Akhirnya saya minta bantuan bu guru untuk menjelaskan bahwa dia tidak perlu les.

Terus terus... kira-kira kapan sih si anak butuh les?
Menurut saya, les diperlukan jika anak ketinggalan pelajaran di sekolah, orang tua tidak bisa mendampingi anak belajar dan untuk tujuan tertentu, misalnya mau dapet nilai terbaik, mau sekolah di tempat tertentu yang butuh nilai baik atau tujuan lainnya.

Jika sudah les tapi anaknya ga ada kemajuan, gimana?
Nah ini yang terjadi ketika anak saya ikut les Bahasa Inggris. Ga ada tambahannya. Ya saya hentikan saja.
Alasan lain kita mengehentikan atau mempertimbangkan les antara lain anak kurang enjoy sehingga malas berangkat les. tidak ada kemajuan belajar,  jadwal sering berubah sehingga kita dipaksa terlalu fleksibel, kita sebagai orang tua tidak bisa berkonsultasi tentang kemajuan si anak.

Jadi perlukah les tambahan? Kembali ke pertimbangan orang tua, kondisi anak dan kondisi ekonomi keluarga :)