ASI Berlimpah, repot tapi berguna

ASI sangat sangatlah penting untuk pertumbuhan bayi terutama selama 6 bulan pertamanya. Demi mengetahui pentingnya ASI, banyak ibu-ibu yang bercita-cita untuk memberikan ASI eksklusif untuk bayinya, termasuk saya. Segala macam cara dilakukan, mulai dari inisiasi dini, banyak makan sayuran, banyak makan daun katuk dan sebagainya.
Untuk beberapa ibu-ibu, entah kenapa, dengan berbagai macam treatment tersebut ternyata tidak dapat memberikan ASI kepada babynya. ASInya tidak keluar. Ada beberapa teman saya yang seperti itu.
Saya jadi bertanya-tanya, akan seperti apakah saya?Saya tidak hanya bercita-cita memberikan ASI eksklusif tapi juga bertekad. Selain itu memang sudah tertulis dalam benak saya bahwa ibu haruslah dan pastilah menyusui anaknya. Bayangkan jaman dahulu kala ketika tidak ada susu formula, pastilah semua bayi disusui oleh ibunya. Kasus "khusus" mungkin tidak usah dibahas dan dikenang kali ya.
Syukurlah, ketika bayi saya lahir, produksi ASI lancar. Sempat kurang lancar selama 2 hari mungkin. Rumah sakit tempat saya melahirkan langsung menjauhkan bayi dengan ibunya. Bayi dibersihkan dan saya dirawat di ruang berbeda. Bayi baru diberikan kepada saya keesokan paginya dan langsung saya susui. Ternyata tidak keluar, tapi tetap saja saya biarkan dia menyusu sampai akhirnya dia menangis, mungkin marah tidak mendapatkan apa-apa. Saya susui terus meskipun tidak keluar, ya sampai bayinya menangis marah, akhirnya sempet juga dikasih susu formula karena dikira ASI saya tidak ada. Menyesal juga sih...
Hari ketiga ASI mulai keluar lumayan banyak, setidaknya bayinya tidak menangis lagi sehabis disusuin, meskipun harus bolak balik kiri dan kanan.
Hari keempat, hemmm tak terbendung lagi. Banjir ASI dimana-mana! Baju dan kasur basah.
Ternyata ASI berlimpah repot juga.
Selain harus ganti baju dan sprei sering-sering, si babynya juga kasian karena jadi batuk karena ASInya keluar terlalu banyak. Jadi solusi yang terpikir adalah sebelum disusuin harus dipompa dulu. Masuk botol, lalu masuk freezer buat persediaan, ketika nanti saya tinggal kerja. Kata DSAnya kalau di freezer bisa tahan sampai 3 bulan.
Selama menyusui juga bisa dihasilkan 50-70ml ASI dari "PD" yang tidak disusui. Jadi kalau bayi menyusu pada PD kiri, ASI dari PD kanan ditampung dengan botol. Hasilnya banyak banget. Kebayang dia nyusu lebih dari 10 kali sehari dan sebanyak itu pula ASI dari PD lainnya ditampung. Bekal nanti ketika saya tinggal bekerja.
Gak enaknya lagi ASI berlimpah ya ketika kerja. Sering tembus ke baju. Jadi harus ganti breastpad juga kadang-kadang di kantor dan harus sering dipompa.
Dari segala hal yang tidak mengenakkan dengan ASI berlimpah, kayaknya masih lebih enak daripada tidak ada ASI.
Dede mendapat ASI tanpa Sufor selama 1 tahun dan lanjut ASI dengan Sufor hingga 2,5 tahun.
Meskipun ribet, jangan menyesal karena kebanyakan ASI, asal bisa mengelolanya pasti bisa diatasi semua masalah. Malah dampak baiknya adalah : baby mendapat ASI sebanyak-banyaknya untuk bekal kesehatannya di masa kini dan mendatang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar