Kerja di rumah

Hemm sudah lama saya tidak menulis di blog. Rasanya kangen sekali tapi seperti kekurangan waktu saja untuk menuangkan isi hati dan pikiran ke dalam tulisan di blog saya ini. Yang bisa saya lakukan hanya menulis beberapa kalimat untuk kegiatan hari ini yang penting-penting saja :)

Saya ingin banyak bercerita tentang pengalaman saya kerja di rumah setelah 9 tahun kerja kantoran. Ada banyak cerita jadi dibagi saja.

Sejak SMA saya bercita-cita untuk bisa kerja kantoran, bukan wiraswasta, bukan bertani, dan meskipun saya sudah berkeluarga, saya akan tetap bekerja. Tujuannya sederhana saja, bukan demi karir, tapi demi membantu keluarga saya dan juga demi anak-anak saya nantinya, sekaligus idealisme yaitu pengamalan ilmu-ilmu yang diperoleh hehehe

Pergilah saya ke Bandung, selepas SMA, menyusul kakak saya yang sudah terlebih dahulu melanjutkan kuliah di STT Telkom. Mengambil jurusan Farmasi dengan cita-cita menjadi apoteker yang bekerja di pabrik farmasi, pabrik kosmetik maupun membuka apotek sendiri.

Dan benar, saya bisa bekerja di pabrik farmasi terkemuka di Cikarang. Menyenangkan sekali, karena saya memang cinta pekerjaan saya. Saya suka formulasi obat, saya senang trouble shooting walau bikin pusing, tapi saya menikmatinya. Bekerja di sana selama 2 tahun dan akhirnya memutuskan untuk menikah dengan terlebih dahulu mencari pekerjaan di Surabaya, bayangan saya hanya satu yaitu mencari pabrik farmasi lagi :). Segitu cintanya ya hehehe. Dan bekerjalah kembali saya di pabrik farmasi di surabaya dan akhirnya menikah pada Juni 2004.

Saya memang termasuk orang yang susah untuk pindah-pindah kecuali memang urgent dan terpaksa banget. Mungkin kategori orang yang nerimo hihi. Pindah rumah, pindah ke lain hati kalo pacaran dan juga pindah kerja. Jadi walau dibilang perusahaan ini begini begitu, perusahaan itu lebih baik karena begini begitu, saya biasanya tidak mudah untuk pindah ke tempat yang dibilang lebih baik itu. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau bukan :). Yang penting saya cinta pekerjaan saya, saya lakukan yang terbaik, hasilnya biarkan DIA yang menilai. Jika saya harus pindah, pasti akan ditunjukkan jalan keluarnya.

Ketika hamil anak pertama kemudian keguguran dan hamil anak kedua pun saya tidak ada niat untuk kerja di rumah. Ibu saya bisa membesarkan saya dengan bekerja sebagai guru, sayapun pasti bisa. Kemudian hadirlah Dede. Saya masih bisa handle semuanya, walau sangat repot. Kembali ke rumus, ibu saya bisa, sayapun harus bisa. Saya lupa kalau rumus saya ada yang kurang :). Bapak ibu saya guru SD yang pergi pagi pulang jam 1 siang dan rumah kami berseberangan jalan dengan rumah Nenek :). Sedangkan saya? Orang tua dan mertua ada di Bali, tetangga kiri kanan memang semua baik dan perhatian, tapi mereka tentu saja ada kesibukan sendiri-sendiri. Pyuuhh......

Ah tapi bukan halangan untuk saya tetap bekerja. Hingga lama-lama seperti ada yang kurang, seperti ada yang salah. Ketika Dede sakit saya harus trial produksi untuk launching produk baru, yang sama sekalia tidak bisa saya titipkan pekerjaan semacam itu kepada staff dan operator kami, apalagi kepada teman kerja yang tidak mengikuti perkembangan penelitian produk tersebut. Ketika dede sakit dan manja minta ditemani. Ketika Dede mogok makan [info dari si mbak, entah benar entah tidak], dan hanya mau makan ketika saya pulang kerja. Ada keinginan untuk berhenti bekerja tapi bagaimana dengan penghasilan saya? Saya tidak ingin hanya meminta kepada suami, saya masih ingin bantu keluarga saya, saya tidak ingin mengalami kesulitan keuangan ketika nanti anak saya sekolah. Apa pekerjaan yang cocok untuk saya yang sesuai untuk background saya dan tidak banyak modal? Curhat sana sini minta petunjuk teman-teman dan keluarga. Mulailah saya mencoba-coba segala hal yang berbau kerja di rumah. Tentu saja tidak berani langsung berhenti bekerja. Walau sangat repot saya kerjakan saya terlebih dahulu. Bagaimana saya tau sesuatu akan berhasil jika saya tidak mencobanya :)

Apa saja yang saya kerjakan? Jualan kain bali, tas, jualan pernak pernik bali, belajar menulis, menjahit, membuat kerajinan flanel, melirik usaha catering. Tapi hasilnya tidak memuaskan.
Aah apakah saya sudah dikutuk menjadi pegawai seumur hidup nih? Saya yakin Tuhan pasti tunjukkan jalan. Jika memang saya harus menjadi pegawai, pasti ada penolong supaya saya bisa membesarkan anak saya dengan baik dan tetap menjadi istri yang baik pula. Yang perlu saya lakukan adalah sabar dan terus berusaha.

Kemudian saya dikontak oleh teman kuliah saya dan menawarkan bisnis yang sama sekali asing bagi saya. MLM Oriflame. Kenapa saya bilang asing dan serem? Saya tidak bisa jualan, saya tidak bisa merekrut, saya tidak ada waktu untuk merekrut, saya tidak bisa menjual produk yang sama sekali tidak saya ketahui dan pasti tidak akan saya coba juga karena saya memang tidak menggunakan kosmetik selain sabun wajah, bedak dan lisptik. Tapi apa salahnya dicoba? Saya juga sudah banyak bertanya dan yaah dengan modal 30ribu waktu itu saya berani mencoba bisnis ini dengan segala keterbatasan saya. Berhasil atau tidak berhasil saya harus mencobanya. [To be continued]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar