Antibiotik vs jamu

Ini merupakan pengalaman pribadi dan turunan dari nenek moyangku sejak jaman dahulu kala. Aku menulis ini karena terinspirasi oleh maraknya penggunaan antibotika pada anak-anak dan bahkan pada bayi. Syukurlah DSAku bukan orang yang seperti itu. Jadi anakku belum terjamah oleh antibiotik. Aku pengen sharing tentang pengalaman masa kecilku yang bebas antibiotika hingga kira-kira aku kuliah. Sejak kecil hingga kuiliah itu, aku sama sekali tidak tahu bahwa pengobatan untuk nyeri telan alias sakit saat menelan adalah dengan antibiotika seperti yang sekarang aku tahu dan sepertinya dilakukan oleh banyak orang. Sejak kecil aku kalau mengalami sakit tenggorakan, aku tinggal lapor sama ibuku dan ibuku akan segere menyuguhkan minuman berwana hijau berbau daun kadang berbau daun plus bawang merah. Rasanya? EGP..Emang Gue Pikirin. Yang penting sembuh! Rasanya hambar, jadi kadang diberi sedikit garam atau madu, tidak boleh pakai gula karena bikin tambah parah [??@$%?!]. Kata mereka para orang tua [ibu dan nenekku] sakit tenggorokan itu karena panas dalam]. Dan memang dalam waktu 1-2 hari paling lama 3 hari [jarang terjadi] tenggorokan rasanya plong. Ajaib kan. Berarti sama dong dengan antibiotik? Entahlah, kayaknya belum ada penelitiannya [atau sudah ada?]. Ketika SMA aku sama temen-temen dibimbing oleh guruku membandingkan kadar vitamin C dalam beberapa minuman kemasan dan ekstrak daun katuk. Ternyata kandungan Vit C dalam ekstrak daun katuk yang paling banyak.
Sejak kuliah dan jauh dari orang tua plus jauh pula dari daun katuk yang biasanya metik di kebun halaman rumah jadi mengenal antibiotik deh.
Mungkin ada yang mau meneliti kandungan daun katuk?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar