Sederhana

Kata sederhana dalam bahasa indonesia mungkin dapat diartikan apa adanya atau tidak mencolok. Entahlah nanti akan saya cari di kamus besar bahasa indonesia. sangat banyak teman atau orang yang bertemu dengan saya mengatakan bahwa saya sederhana. Mereka ada yang langsung bicara pada saya atau menyampaikannya lewat temen atau kadang saya sedikit mencuri dengar penilaian mereka. Saya sendiri langsung menyadari penilaian mereka dan merasa bahwa itu 99% adalah benar.
Ada juga yang memberikan bahasa kerennya adalah bersahaja. Saya merasa sangat tersanjung dengan bahasa itu apalagi yang mengatakan itu adalah bos yang sangat saya kagumi sebagai the really great man. Konon katanya the greatman is a man who is great at every moment and everything and make everyone feel small but the really greatman is a man who make everyone feel great.
Bersahaja mungkin adalah sanjungan tetapi tidak jarang juga sederhana berkonotasi negatif. Ada yang bilang pelit, irit, kurang wah, tidak menarik dan sebagainya. Saya sih menanggapinya dengan santai dan tidak terpengaruh. Yang penting saya senang dan enjoy dan tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Ada beberapa hal yang mendasari saya hidup dan berpenampilan sederhana. Dasar yang paling utama adalah dari keluarga. Kebetulan saya dilahirkan di keluarga yang biasa-biasa saja dan bisa dikatakan masa kecil saya tidak seperti anak-anak lain yang penuh dengan permainan. Sejak kelas 4 SD saya sudah mulai dengan berbagai macam tanggung jawab pekerjaan rumah dan membantu keluarga untuk mencari penghasilan tambahan. Mungkin hal ini membuat saya kurang gaul sehingga tidak tahu perkembangan mode. Selain itu sedikit banyak ada perasaan minder dengan asumsi bahwa saya tidak pantas hidup dan berpenampilan wah jika memang keluarga saya tidak mampu.
Perasaan ini terbawa hingga sekarang tetapi ada bedanya lho... sekarang saya tidak minder lagi. kalaupun ada, mungkin hanya tinggal 10% dari peninggalan yang dulu sebanyak 90%. Saya juga sering berpikir bahwa Tuhan tidak pernah melihat penampilan seseorang untuk memberikan penilaian. Kalaupun saya tampil agak sedikit berlebih, itu karena saya menghargai suami dan orang tua. Mungkin mereka akan malu berjalan bersama saya jika saya kurang rapi. Dan selebihnya ada juga sedikit ego yang masih menempel pada diri saya untuk tampil baik di depan umum.
Dan ternyata hidup sederhana membawa berkah juga untuk keluarga saya. Kebetulan suami saya juga orang yang cukup sederhana. Kehidupan kami biasa saja. Kami menjadi orang biasa-biasa saja dan sangat mensyukuri hal tersebut. Kami tidak pernah ingin yang aneh-aneh seperti orang berduit lainnya. Berkahnya seperti apa? Karena kami tidak senang berpakaian wah, budget untuk pakaian bisa kami simpan untuk pendidikan anak kelak. Karena kami tidak suka makan wah [sekali-sekali bolehlah...], kami jadi senang makan di rumah dengan menu yang lebih sehat dan higienis dibandingkan jika beli diwarung or restoran.
Itulah penilaian saya tentang sederhana, mungkin banyak yang tidak sependapat dan itu sah-sah saja. Menjadi sederhana adalah jalan hidup saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar