Dare to change - mengasuh anak

Wah apa hubungannya tuh antara dare to change dengan mengasuh anak atau saya dare to change dalam pengasuhan anak? Begini ceritanya. Saya pernah dapat training dare to change di kantor dari Dynamic Motivation Center. Tutornya sangat bersemangat dan membuat kita bersemangat juga untuk mengikuti training plus bersemangat untuk berniat berubah walaupun kenyataannya semangat rada kendor tinggal 60% sehabis training dari awalnya 90%, hahaha. Tapi gak apa-apalah daripada tidak ada semangat sama sekali atau malah tidak tahu sama sekali tentang training itu, yang artinya 0%.
Yang pertama,
Di sana dibahas tentang sikap mental negatif yang ingin diubah ke positif. Yang menarik adalah ketika mereka membahas tentang PBS [Pikiran Bawah Sadar] dan PAS [Pikiran Alam Sadar]. PBS = memori yang mana menduduki 85% dari kapasitas otak kita dan PAS = kesadaran akan tindakan kita dengan porsi hanya 15%. PBS menerima semua informasi tanpa memilahnya terlebih dulu dan kemudian menyimpannya.
Informasi dapat diperoleh dari panca indra kita. Nah celakanya, memori yang sudah terlanjur masuk dan tersimpan, konon kabarnya tidak bisa didelete seperti halnya kita menyimpan file pada komputer. Kita mungkin saja dapat lupa dengan salah satu informasi tersebut tetapi sebenarnya informasi tersebut tidaklah hilang, hanya terselip di salah satu neuron kita. Contoh : pada masa kecil kita pernah mengalami kejadian, misalnya jatuh dari sepeda. PBS merekam dan menyimpannya.Nah pas sudah besar kita lupa pernah mengalaminya, itu mungkin terjadi. Tetapi jika kita berusaha menggali dan menggali terus ingatan tersebut, kemungkinan besar akan ingat juga.
Nah, apakah hubungannya dengan pengasuhan anak-anak? Tentu saja sangat berpengaruh. Anak memiliki memori yang masih kosong. Dan dia menangkap semua informasi yang kita berikan. Sangat berbahayakan jika informasi yang kita berikan salah? Meskipun kadang kita tidak serius dalam mengatakannya. Misalnya, jangan main sampe malam, nanti ada hantu. Jangan main disana nanti ada kecoa, Kamu bodoh, kamu nakal, dll yang bersifat negatif. Atau jika anak salah dihukum dalam kamar yang gelap dan pengap. Dia akan ketakutan dan kemungkinan hingga besar takut dengan gelap. Untuk anak-anak yang kurang tough, bisa menjadi trauma hingga dia dewasa. Jadi....sebisa mungkin berikanlah kata-kata positif pada anak-anak, karena jika informasi jelek sudah masuk PBS, akan sulit men"delete"nya.
Bagaimanakah agar anak berhasil dalam kehidupan sehari-hari? Sejak kecil harus selalu diberikan kebiasaan yang baik. Meskipun dia belum biasa melakukannya, kita harus tegas dengan sedikit "memaksakan kehendak" untuk memulai kebiasaan itu pada anak. Katanya sih ada prinsip REPOH [Repetition Easy, Pleasure, Often, Habit]. Lakukan pengulangan pada kegiatan tersebut, sehingga lama-lama menjadi EASY melakukannya. Kalo sudah EASY akan terasa PLEASURE. Jika udah PLEASURE akan OFTEN dilakukan. Nah kalau udah OFTEN kan jadi HABIT...

Yang kedua,
Kenalilah anak berdasarkan personality-nya. DISC.
- D = Dominant/Kolerik = Dominan [mengendalikan]
- I = Influence/Sanguin = mempengaruhi, intim, penuh kesenangan
- S = Steady/Plegmatis = Sabar, hidup santai penuh kemudahan
- C = Compliance/Melankolis = Cermat dan taat peraturan, analitis.
Jika kita sudah bisa mengenali tipe anak [kelebihan dan kekurangan], perlakukanlah dia seperti tipenya tersebut, supportlah dia untuk mengembangkan diri mengatasi kelemahannya. Jadi jika satu anak bertipe D dan satunya lagi S, jangan diberikan target yang sama karena stressnya mereka akan beda. Misalnya anak type I yang penuh kesenangan akan tidak akan senang berdiam diri dan bermain hanya dengan satu mainan. Sedangkan type C yang cermat dan ekonomis akan betah dengan mainannya yang lama dan kemungkinan tidak akan membuangnya hingga dia dewasa, hehe kebayang kumelnya kayak apa tuh mainan.

Nah, para orang tua yang ingin anaknya menjadi pribadi yang baik, mungkin dapat merenungkan hasil training tersebut :). Atau mungkin dapat diterapkan pada diri sendiri?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar