Kerja di Rumah tanpa PRT

PRT alias pembantu rumah tangga, merupakan profesi yang sangat dibutuhkan terutama bagi ibu bekerja. Begitupun saya dulu.
Sejak kecil saya memang tidak terbiasa dengan PRT karena memang keluarga saya tidak menggunakan jasa pembantu. Ada nenek yang menjaga saya ketika Ibu saya yang seorang guru SD melakukan tugasnya. Jam 1 siang beliau sudah kembali bersama Bapak yang juga seorang guru SD. Itupun tempat mengajarnya deket sehingga jika dibutuhkan Ibu atau Bapak bisa pulang pada waktu istirahat.
Ketika saya belum punya anak, ada atau tidak ada pembantu sama saja. Tambah repot aja tapi karena sudah biasa bekerja pekerjaan rumah, ya dijalani aja. Hanya saja ketika ada anak dan saya tidak bisa berhenti bekerja karena harus membantu suami, saya pun wajib mempunyai pembantu. Banyak suka dan duka menggunakan pembantu, tapi kita menciptakan hubungan simbiosis mutualisme dan mengganggap dia sebagai keluarga saja.
Pernah terpikir, jika saya bekerja di rumah, kemungkinana saya tidak membutuhkan pembantu lagi, toh orang-orang tua jaman dahulu tidak kenal dengan yang namanya pembantu.
Akhirnya saya resign dari pekerjaan kantor saat lahiran anak kedua dan bersamaan dengan itu penghasilan saya di Oriflame yang saya jalankan dengan sistem d'BC Network sudah kurang lebih sama bahkan kadang lebih besar daripada gaji kantor.
Tapi karena kasian dengan si mbak [pembantu], sudah 5.5 th ikut dengan keluarga kami dan dia bercita2 membeli sapi dari gajinya, akhirnya si mbak tidak saya berhentikan. Saya ajak sampai dia sendiri yang berhenti, yang katanya jika dia menikah di kampung, dia akan berhenti.
Ternyata si mbak banyak membantu meskipun aku sudah di rumah karena mengurus bayi dan si kakak memang lumayan ribet juga.
Sampai akhirnya ketika si adik berusia 6 bulan, si mbak menikah di kampungnya dan itu berarti dia berhenti bekerja.
Hemmm karena ditinggal mendadak, saya rada kelabakan juga. Bukannya tidak prepare, tapi prepare-nya setengah hati hehehe. Belum lagi dia pamit pulang mau jenguk ibunya dan tidak kembali lagi sampai pernikahannya bulan depannya.
Terduduk termenung, mengatur jadwal kerja yang berantakan dan pusing memikirkan antar jemput si kakak.
But the show must go on
Saya pun mulai mencoba-coba cara terefisien yang terpikir saat itu dan juga menerapkan semua nasehat keluarga dan tetangga yang hidup tanpa PRT :)
Hasilnya?
Berantakan
Amburadul
Trial dan error
Tapi lagi-lagi the show must go on
Dan sekarang sudah hampir setahun nih ditinggal PRT
Dan semuanya baik-baik saja
Bagaimanakah rupa dari jadwal kerja saya?
bersambung yaaa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar