Penjual Nangka

Saya pulang ke Bali untuk berlibur sekalian melihat keadaan orang tua yang keempatnya syukurlah masih sehat, biasanya dua kali setahun yaitu ketika libur semester si kakak. Kalau sekolah libur biasanya Bapaknya juga ikut libur. Mereka libur, saya dan adik pasti ikut libur juga donk walau masih nenteng-nenteng kerjaan juga ke Bali.

Sepanjang perjalanan Surabaya-Bali dan sebaliknya saya tidak pernah tidur, nemenin pak sopir [bapaknya] biar dia gak ngantuk juga :D
Nah saya suka perhatiin alam, orang-orang yang bekerja, orang yang attiude-nya gak baik dijalan, dsb. Jarang-jarang keluar rumah, jadi emang harus dimanfaatkan untuk cuci mata.

Pulang Desember kemarin yang menarik adalah penjual nangka di pinggir jalan, entah nama daerahnya apa, biasaaa saya bukan pengingat nama tempat yang baik :p.
Para bapak tua berjejer dengan sepeda ontel dengan jarak kurang dari 500m dengan pedagang lainnya, menjual barang yang sama yaitu nangka dan tiba-tiba tanpa permisi dulu, hujan deras datang dan mereka kelabakan untuk berlindung. Ada yang berlindung di pohon terdekat yang saya tahu tidak cukup membantu agar mereka tidak basah kuyup, ada yang ngeluarin jas hujan dan ada pula yang berpayung berdua dengan teman penjual lain sambil ngobrol dan tertawa-tawa.

Melihat adegan yang bukan sinetron itu, saya merasa pengen nangis dan juga malu pada diri sendiri.
Terharu melihat perjuangan mereka, para bapak yang sudah tua semangat berjualan, tidak merasa ada saingan dengan penjual lain yang bersebelahan letaknya
Teringat juga masa kecil jualan pisang goreng + nasi bungkus dan kehujanan di jalan tidak membawa payung [tidak punya payung lebih tepatnya], ibu saya menangis di rumah memikirkan saya sedangkan saya ketawa-ketawa sama temen di jalan berteduh di emper toko orang.
Merasa malu juga karena dengan pekerjaan saya di rumah yang bebas kehujanan seperti sekarang ini, kadang-kadang kena penyakit kurang bersemangat juga :(( *plaaaak!

Jadi yaa...
Yang suka mengeluh dengan pekerjaan yang jauh lebih enak daripada bapak tua itu, yang jauh lebih nyaman dan yang pendapatannya jauh lebih besar, inget aja sama mereka. Mereka saja bisa tersenyum ditengah hujan dan dagangan juga mungkin jadi gak laku karena orang jarang mau berhenti untuk membeli ditengah hujan demikian.
Yang suka mengeluh bilang banyak saingan sehingga tidak mungkin sukses, trus bagaimana dengan si bapak penjual itu yang bersaing dalam jarak kurang dari 500m dan mereka masih semangat berusaha serta bercengkrama rukun bersama
Yang suka sedikit sedikit ngeluh capek padahal masih kuat dan masih muda, bisa deh merasa malu jika dibandingkan dengan bapak tua itu..

Jadi jadi yaaa...
Selalu ada jalan untuk menjadi lebih baik dalam menjalani hidup jika kita punya semangat, ikhlas dan syukur, seperti si bapak penjual nangka pinggir jalan yang ingin kehidupan lebih baik untuk keluarganya.

Semoga saya yang masih muda dan produktif ini bisa bekerja lebih maksimal agar bisa memberikan yang terbaik untuk masa depan anak-anak dan persembahan untuk ke-4 orang tua saya :)

Saya tak pernah menjumpai seseorang yang menderita karena terlalu banyak bekerja. Lebih banyak orang yang menderita karena terlalu banyak ambisi tetapi tak cukup berusaha. (Dr. James Mantague)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar