Maximum Performance

Maximum performance
August 28th, 2008 by kadekanie

Sabtu Minggu [23-24 Agustus] kemarin saya mengikuti training Maximum Performance di kantor. Trainernya dari DMC [Dinamic Motivation Center]. Rasanya malas mengorbankan hari libur sabtu minggu untuk ikut training. Tapi yang namanya wajib dari kantor, mana bisa dibantah. Boleh gak ikut asal ijin direktur. Upss…masa bikin alasan ngemong anak. Ada berpuluh-puluh ibu lain yang juga harus ngemong anak juga harus ikut training. Masa mau minta excuse sendiri.
Daripada lama-lama menyesali hal itu saya harus bertekad untuk bisa memperoleh manfaat dari training tersebut. Masa udah berkorban waktu dengan keluarga gak dapat apa-apa? Kasian banget???
Ini adalah training lanjutan dari training-training sebelumnya yaitu Dare To Change dan Leadership yang juga diadakan tiap sabtu minggu. Jadi kesimpulannya tiap tahun harus menyiapkan agenda sabtu minggu untuk masuk kantor,hehe.
Judulnya aja Maximum Perfomance, jadi isinya tentang bagaimana memaximalkan perfomance dalam kehidupan pekerjaan maupun sehari-hari.
Awalnya dibahas tentang puisi yang isinya bahwa saya tidak memilih menjadi insan biasa. Lho terus jadi apa donk? Maunya jadi insan luar biasa. Bukan maksudnya insan yang yang diluar kebiasaan hehe, tapi insan yang hebat, berprestasi! Hem membaca puisinya jadi membuat saya tersadar bahwa saya adalah orang biasa dan ternyata hanya ingin menjadi orang biasa saja, hahaha. Biasa-biasa gen… gitu kata orang bali. Yang menentukan bahwa kita menjadi orang biasa atau orang luar biasa adalah kebiasaan. Dijelaskan bahwa kebiasaan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Dia dapat membuat kita menjadi sukses atau pun gagal. Jadi intinya pupuklah selalu kebiasaan baik dan berubahlah untuk membuat sesuatu yang baik menjadi suatu kebiasaan. Semboyannya DMC adalah REPOH [Repetition Easy Pleasure Often Habit]. Jadi kita harus mengulang-ngulang suatu kegiatan yang baik sehingga lama-lama menjadi terasa Easy dikerjakan dan selanjutnya kita pleasure melakukannya dan menjadi suatu habit. Kalo sudah jadi habit, ya sudah… akan dilakukan setiap hari.
Nah bagaimana untuk mencapai luar biasa. Ada 3 jalan yaitu comitment, belief dan modelling. Kalo mau sukses kita harus punya komitmen untuk mencapainya [jangan cuman impian yang tinggal impian], keyakinan bahwa kita bisa mencapainya dan boleh dengan cara meniru keunggulan orang lain. Meniru bukan berarti bahwa kita tidak menjadi diri sendiri. Kita tidak meniru orang lain tetapi KEUNGGULANnya. Dan bukankah kita hidup dari meniru orang lain? Mulai dari anak kecil yang meniru gaya bapak/ibunya atau lingkungan tempat dia dibesarkan.
Terus sesion berikutnya dibahas tentang Personality DISC [Dominant, Influence, Steady dan Compliance].
Wah DISC adalah topik menarik sejak saya kuliah. DISC dalam bahasa lainnya adalah Kolerik, Sanguin, Melankolis, Plegmatis. Awalnya dikata-katain temen saya teh melankolis banget. artinya apa? dia menunjukkan bukunya yang berjudul Personality Plus. Karena penasaran ya akhirnya saya baca. Penjelasan di buku relatif sama dengan yang dijelaskan di DMC. Contoh-contohnya yang diberikan sangat kongkret. Mungkin ini yang membuat suasana jadi ramai, maklum sifat manusia yang egosentris membuat masing-masing orang memiliki pikiran menerawang mencari contoh yang sesuai dengan orang-orang di sekitar kita. Ya keluarga atau teman kerja. Kesimpulannya adalah kita harus mengenali diri kita dulu atau lebih tepatnya menerima diri kita baik kelebihan maupun kekurangannya. Kemudian mempelajari pengembangan diri untuk menonjolkan kelebihan dan mengatasi kelemahan kita. Begitu juga dengan memperlakukan orang lain. Kita melihat tipenya dulu dan kemudian melakukan pendekatan sesuai dengan tipenya tersebut.
Teorinya seperti itu, tapi pelaksanaanya sangat sulit. Selain itu, tipe ini dipengaruhi oleh lingkungannya. Jadi ada kemungkinan orang bertipe D yang dikelilingi oleh orang tipe S, sedikit demi sedikit akan melunak menjadi S meskipun sifat D-nya masih ada karena itu memang sudah sikap dasar.
Hemm.. sebenernya DISC ini adalah kali ketiga DMC membahasanya. Apa dia lupa ya kalo pada training-training sebelumnya sudah dibahas atau mereka merasa ini sangat penting? Entahlah.. Tapi dari materi presentasinya berbeda dengan sebelumnya. Mungkin ada pengembangan dari DISC sebelumnya meskipun konsepnya tetaplah sama. Demikian training selama dua hari yang cukup melelahkan. Semoga bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat. Tapi hingga detik ini saya menulis blog ini ternyata saya tetap menyimpulkan bahwa saya adalah orang biasa yang bercita-cita menjadi orang biasa, hahaha. Berarti trainingnya kurang donk….???*#$?!@!??

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar