Liking the thing we have to do..

Saya pernah menerima email dibawah ini, saya kutip bagian yang berkaitan saja :
==
Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias pada pekerjaan.
Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan. Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena belum mendalaminya dengan benar. Kita harus belajar mencintai yang kita punyai dengan segala kekurangannya.

Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh 5-ng: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel.


Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu duri.

Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa untuk  menjadi lebih berdaya tahan.
==

Nah di dalam dunia kerja kantoran saya mengalami hal seperti di atas, yaaa diterima aja. Memang begitulah dunia kerja :). Dan itupun saya anggap karena saya gak ada pilihan lain alias males pindah-pindah kerja :D

Begitu juga dengan pekerjaan saya sekarang ini. Ikut MLM oriflame, kerja di rumah :)
MLM = bisnis penjual mimpi
Itu yang saya sering dengar sejak saya kuliah hingga sekarang.
Jadi ketika saya diajakin masuk MLM supaya bisa punya kebebasan waktu mengurus anak-anak di rumah tanpa terika waktu kerja kantoran saya sudah pengen langsung menolak.

Kalau bukan temen kuliah saya ngajakin pasti sudah saya tolak mentah-mentah hehe. Tapi saya hanya bilang : MLM? yang ngajak-ngajak orang bergabung itu? Duuu....matilah aku. Bukan diriku banget deeeh ketemu orang begitu.
Temen : Emang kenapa? pernah ditipu?
Saya : Ya enggak sih, kata orang aja jelek. Lagian saya kan melankolis plegmatis, beda ma dirimu hik.
Waktu itu teman kuliah saya dapet 2 juta/bulan

Antara mau dan enggak. Mau uangnya, gak mau kerjanya.

Kalau bisa saya pengen pekerjaan seperti waktu di kantor sebagai formulator obat saja tapi bisa kerja di rumah dan digaji 2 juta aja mau deh [gaji saya jauh lebih besar dari itu looh hihi, tapi rela demi anak]

Terus terang saya cinta dengan pekerjaan saya membuat obat, ada tantangan dan kepuasan tersendiri
Tapi saya juga cinta dengan anak saya dan tidak ingin membiarkan dia tumbuh dalam asuhan si mbak.
Segala macam buku penuntun/pedoman mengasuh anak ketika ibu bekerja sudah saya pelajari dan terapkan, tapi masih saja ada ganjalan.

Kalau saya bisa dirumah dengan masih memperoleh penghasilan kenapa tidak dicoba?
Dan saya mencoba si MLM Oriflame itu tanpa restu orang tua [rasanya gak enak] dan dengan setengah restu suami [karena suami takut saya tertipu juga].

Pekerjaan di MLM Oriflame : jualan produk jika mau keuntungan langsung, menggunakannya supaya bisa kasih testimoni juga, merekrut dan membina downline.

Suka gak sama pekerjaan itu?
Saya menjawab dalam hati : Tidak.
Tapi tidak pernah saya katakan dari mulut : tidak. Karena takut beneran kejadian, bahwa saya sampai akhir jaman gak suka pekerjaan ini, dan juga takut kedengeran suami sehingga ijin usaha saya dicabut :P
Saya harus belajar dari nol rasanya untuk hal ini. Beraaat. Tapi harus!

Hanya ada dua pilihan untuk saya : belajar mencintai atau mengeluh.
Saya berjanji akan berusaha maksimal sampai mentok banget, sampe saya menerapkan semua yang upline saya suruh dan saya tidak berhasil dengan cara itu, baru deh saya bilang nyerah.
Syukurlah, upline saya selalu sharing cara yang berhasil dan saya mulai mencintai pekerjaan baru saya ini.

Pelan-pelan si MLM penjual mimpi ini mulai menampakkan hasil
Satu persatu mimpi saya terbeli dan dengan demikian restu keluarga pun bisa diperoleh ;)

It’s not doing the thing we like, but liking the thing we have to do that makes life happy
[Johann Wolfgang von Goethe]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar