Kehadiran Anak Memberikan Pemikiran Berbeda

Sudah punya anak?
Sudah pernah baca teori tentang pengasuhan anak sebelumnya?
Apakah bisa diterapkan kepada anak-anak kita sesuai teori?
Saya termasuk kategori yang penuh persiapan sebelum melakukan sesuatu. Ada jeleknya juga karena jadi gak maju-maju menunggu semuanya perfect menurut saya dan teori yang saya baca.
Sebelum menikah ada beberapa daftar wajib yang harus dipenuhi dan beberapa buku yang saya baca.
Demikian pula sebelum memiliki anak, ada beberapa persiapan yang saya buat dan beberapa buku yang saya baca serta beberapa peraturan (walau di angan-angan) yang akan saya terapkan berdasarkan pengalaman melihat anak-anak saudara atau tetangga.
Malah saya sempat berpikir dan berencana menunda memiliki anak karena merasa belum siap. Baru pindah kerja ke perusahaan baru dari Kalbe Farma Cikarang ke Bernofarm Sidoarjo, masuk probation dan pastinya targetnya harus tercapai untuk bisa diterima sebagai karyawan tetap.
Tetapi kemudian inget sama usia, dan pikiran untuk menunda itu hanya berlangsung sebulan saja.

Kelahiran anak pertama. sudah disambut dengan beberapa teori. Sejak dalam kandungan sudah disiapkan dari segi mental dan kesehatan. Tapi memang belum takdir, di usia kandungan 5 bulan saya mengalami keguguran. Saya sedikit marah pada diri sendiri, apa yang kurang dari persiapan saya, walau akhirnya harus ikhlas karena mungkin belum dipercaya Tuhan untuk mengasuh anak.
Kehamilan kedua dan keempat memberikan seorang putra dan putri. Selama pengasuhan keduanya hanya sedikit teori yang bisa saya terapkan, selebihnya menyesuaikan dengan keadaan dimana kita sebagai ibu dilatih untuk memiliki feeling so good dan feeling so strong :D.
Dan bersyukur sekali, semuanya berjalan dengan baik, walau tidak sempurna, sempurna hanya milikNYA :)

Saya pernah membaca bahwa telinga ibu sangat peka bahkan disaat sedang tidur. Bener banget. Suatu hari saya batuk flu sakit lumayan parah dan tidak ingin menulari anak. Jadi saya minta bapak tidur dengan Dede dan saya tidur sendiri di kamar sebelah. Jam 2 pagi saya terbangun tiba-tiba, padahal tidur lelap banget setelah minum obat, ngintip ke kamar sebelah dan terlihat Dede sudah terbangun dan duduk di tempat tidur mencari cari saya....

Setelah ada anak tidak ada lagi keinginan untuk membeli sesuatu buat diri sendiri, memasak untuk diri sendiri atau kesenangan diri sendiri. Yang terpikir hanya mengutamakan anak-anak disaat mereka masih membutuhkan bimbingan dan keputusan dari saya. Namun tak lupa saya juga mengajarkan agar mereka mandiri karena kebetulan banget ga ada asistan di rumah.
Ada juga yang bilang saya Martyr Mom yang berbaju kumal atau daster saja yang sibuk melayani anak-anak dan suami serta mengabaikan diri sendiri. Aaah tidak juga yaa :)
Mungkin dilihatnya saya jarang keluar rumah, tapi itu bukan karena ada anak-anak, itu karena saya memang sejak masih gadis jarang keluar rumah jika tidak ada yang harus dikerjakan, apalagi hanya untuk cuci mata di mall....bagi saya itu melelahkan.
Saya tetap punya ME TIME kok. Saat doa, saat bekerja, saat yoga dan saya tetap merawat diri. Untuk baju memang saya tipenya kalau sudah nyaman dengan baju itu ya gak masalah pakai baju yang sama asalkan bersih dan wangi :).

Yaah masih banyak sih pengalaman lain yang membuat saya menjadi orang yang sedikit berbeda dengan sebelum memiliki anak. Semoga para Ibu selalu diberikan kesehatan untuk bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan pastinya menjadi teladan buat mereka, Astungkara :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar